SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Kabar duka datang dari medan konflik internasional, dan kali ini bikin banyak pihak ikut tersentuh. Puan Maharani angkat suara soal gugurnya tiga prajurit TNI yang sedang bertugas dalam misi perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon.
Dengan nada serius tapi juga penuh keprihatinan, Puan menyampaikan duka mendalam. Ia menegaskan bahwa para prajurit yang gugur bukan sekadar korban, tapi “anak bangsa” yang sedang menjalankan misi kemanusiaan di tengah situasi yang jelas jauh dari kata aman.
Yang bikin situasi makin jadi sorotan, insiden ini terjadi di tengah panasnya konflik antara Israel Defense Forces (IDF) dan Hezbollah. Tiga prajurit TNI dilaporkan gugur dalam dua kejadian berbeda pada akhir Maret 2026, salah satunya adalah Farizal Rhomadhon.
Di balik ucapan belasungkawa, ada pesan “tegas tapi nyentil” dari Puan. Ia mendukung langkah pemerintah untuk mendorong investigasi dan bahkan menyinggung tanggung jawab komunitas internasional. Intinya, jangan sampai pasukan perdamaian malah jadi korban tanpa kejelasan.
“Perdamaian dunia itu bukan cuma slogan,” kira-kira begitu garis besar pesannya. Menurut Puan, selama ini publik mungkin melihat keikutsertaan Indonesia di misi PBB sebagai simbol diplomasi. Tapi kenyataannya? Risikonya nyata, bahkan nyawa jadi taruhan.
Ia juga secara terang-terangan mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk tidak sekadar jadi penonton. “Perang harus dihentikan,” tegasnya—sebuah pernyataan yang terdengar sederhana, tapi dalam konteks konflik global, jelas bukan hal mudah.
Di sisi lain, Puan juga “ngingetin hal penting yang sering terlupakan”: negara harus hadir penuh untuk para prajurit. Bukan cuma saat melepas tugas, tapi juga ketika mereka gugur. Mulai dari penghormatan, hingga pemenuhan hak sebagai pahlawan kemanusiaan.
Pesan akhirnya cukup dalam—dan agak nyeletuk juga: di balik bendera perdamaian yang dibawa Indonesia, ada harga mahal yang dibayar. Dan kejadian ini jadi pengingat keras, bahwa misi kemanusiaan pun tetap berada di medan yang penuh risiko.
(Anton)




















































