SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Topik soal Imam Mahdi kembali ramai diperbincangkan warganet di tengah memanasnya konflik Iran–Israel. Kata kunci “Imam Mahdi” sempat menjadi trending di platform X, sementara di Google Trends terlihat lonjakan pencarian dalam tujuh hari terakhir.
Seperti pola yang sudah berulang, setiap konflik besar di Timur Tengah kerap dikaitkan dengan narasi akhir zaman. Kali ini, percikan awalnya berasal dari kabar turunnya 70.000 pasukan Israel yang disiapkan menghadapi Iran. Angka tersebut kemudian dikaitkan sebagian warganet dengan riwayat hadis dalam Shahih Muslim nomor 7.034 tentang 70.000 pengikut Dajjal.
Dalam hadis yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa Dajjal akan diikuti 70.000 Yahudi dari Isfahan yang mengenakan selendang Persia. Dari sinilah muncul asumsi yang menghubungkan angka 70.000 dengan konflik yang terjadi, apalagi Isfahan termasuk wilayah yang terdampak ketegangan Iran–Israel.
Namun, tidak sedikit pula warganet yang mengingatkan agar tidak gegabah mencocokkan angka dalam berita dengan teks hadis. Mereka menekankan bahwa konteks hadis tersebut berbicara tentang peristiwa akhir zaman yang spesifik, bukan setiap kemunculan angka serupa dalam situasi geopolitik.
Salah satu pengguna X menuliskan bahwa kemunculan Imam Mahdi dalam banyak penjelasan ulama umumnya ditandai dengan pembaiatan di Mekkah, tepatnya di antara Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim. Selama peristiwa itu belum terjadi, menurut urutan riwayat yang umum dijelaskan dalam kajian hadis sahih dan hasan, maka fase kemunculan Dajjal pun belum dimulai.
Data Google Trends juga menunjukkan peningkatan kueri terkait, seperti “selendang Persia”, “Imam Mahdi berasal dari negara mana”, “ciri-ciri Imam Mahdi menurut hadis”, hingga “70 ribu pasukan”. Ini menandakan tingginya rasa ingin tahu publik di tengah situasi global yang tidak menentu.
Dalam ajaran Islam, kemunculan Imam Mahdi memang termasuk salah satu tanda besar akhir zaman. Ia diyakini sebagai pemimpin yang akan menegakkan keadilan dan mengakhiri berbagai bentuk kezaliman sebelum datangnya fase-fase besar lainnya dalam rangkaian peristiwa kiamat.
Meski demikian, para ulama kerap mengingatkan agar umat tidak mudah terjebak pada spekulasi, cocoklogi angka, atau teori konspirasi setiap kali terjadi konflik berskala besar. Memahami hadis secara utuh dan kontekstual tetap menjadi kunci agar diskusi tetap rasional dan tidak menimbulkan kepanikan.
(Anton)




















































