SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Ada satu kisah yang jarang terungkap dalam lembaran sejarah diplomasi Indonesia. Saat Presiden Soekarno mengunjungi Jepang pada 29 Januari hingga 11 Februari 1958, rombongan kepresidenan tak hanya disibukkan dengan agenda diplomatik resmi, tetapi juga dihadapkan pada ancaman nyata yang memaksa langkah pengamanan ekstra—yang melibatkan salah satu kelompok kriminal paling terkenal di Negeri Sakura, Yakuza.
Kunjungan itu meliputi pertemuan penting dengan Perdana Menteri Jepang Nobusuke Kishi, Kaisar Hirohito, serta kunjungan ke kota-kota besar seperti Osaka, Kobe, dan Hiroshima. Di balik kesan resmi tersebut, tim pengamanan presiden mendapatkan informasi ancaman dari anggota pemberontakan Permesta di Indonesia. Untuk menjaga keselamatan sang proklamator, Kolonel Sambas Atmadinata berkoordinasi dengan kontak lamanya di Jepang, Oguchi Masami, hingga kemudian bertemu dengan Yoshio Kodama, tokoh terkemuka Yakuza.
Kodama menugaskan sekitar 20 anggotanya, yang kemudian dikenal sebagai Polisi Ginza, untuk ikut mengawal Presiden Soekarno sepanjang lawatan. Momen ini menjadi unik dalam sejarah diplomasi Indonesia, karena pengamanan seorang kepala negara dibantu oleh kelompok kriminal terorganisir—suatu hal yang hampir tak pernah terjadi sebelumnya.
Ancaman tersebut memang nyata, meski tidak sampai berujung pada serangan. Ventje Sumual, tokoh utama Permesta, juga berada di Jepang pada waktu yang sama, namun menegaskan kunjungannya hanya untuk konsolidasi politik daerah. Ketatnya pengamanan terlihat jelas saat Presiden Soekarno bertemu Kaisar Hirohito, dengan barisan polisi Jepang yang berjaga rapat sepanjang perjalanan rombongan.
Lawatan yang semula dijadwalkan 18 hari akhirnya dipersingkat menjadi 13 hari, menyusul meningkatnya ketegangan politik di tanah air dan kabar bahwa Ibu Negara Fatmawati akan segera melahirkan. Kisah ini menorehkan catatan sejarah yang menegangkan namun heroik, menunjukkan kesiapan pemerintah Indonesia dalam menghadapi risiko keamanan internasional sekaligus menegaskan keberanian seorang Presiden yang menjadi simbol bangsa.
(Anton)



















































