SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Harga minyak dunia kembali mengalami tekanan pada perdagangan Jumat (20/3), menyusul pernyataan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang menyebut posisi Iran semakin melemah dan konflik diperkirakan akan berakhir lebih cepat dari perkiraan pasar.
Pernyataan tersebut langsung meredakan sebagian kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan energi global, yang sebelumnya sempat memicu lonjakan harga minyak ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Laporan Agence France-Presse menyebut, pelaku pasar juga merespons positif sikap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menegaskan bahwa Israel tidak akan lagi menargetkan infrastruktur energi Iran. Pernyataan ini muncul setelah eskalasi serangan terhadap fasilitas energi di kawasan Teluk memicu kekhawatiran luas.
Meski sentimen mereda, ketegangan geopolitik belum sepenuhnya hilang. Konflik yang telah memasuki pekan keempat masih membayangi pasar global, terutama sektor energi yang sangat sensitif terhadap gangguan distribusi.
Harga minyak mentah tercatat tetap berada di level tinggi, dengan Brent bertahan di kisaran US$108 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) sekitar US$94 per barel. Sebelumnya, harga sempat melonjak hingga US$119 per barel setelah serangan terhadap fasilitas energi, termasuk ladang gas strategis South Pars Gas Field.
Situasi semakin kompleks dengan terganggunya jalur distribusi energi global di Selat Hormuz, yang menjadi lintasan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Penutupan efektif jalur ini sempat memicu lonjakan harga gas dan meningkatkan volatilitas pasar.
Dalam pernyataannya, Netanyahu menegaskan bahwa Israel dan Amerika Serikat berada dalam posisi strategis yang kuat. Ia juga menyebut Iran tidak lagi memiliki kapasitas signifikan dalam pengayaan uranium maupun produksi rudal balistik, serta memperkirakan konflik akan berakhir lebih cepat tanpa memberikan batas waktu pasti.
Lebih lanjut, Israel menyatakan kesiapan untuk bekerja sama dengan Amerika Serikat dalam mengamankan Selat Hormuz guna menjaga stabilitas pasokan energi global. Sementara itu, Washington menegaskan tidak menetapkan tenggat waktu untuk mengakhiri konflik yang dimulai pada 28 Februari lalu.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump mengungkapkan telah meminta Israel untuk tidak menyerang fasilitas energi Iran guna mencegah eskalasi lebih lanjut. Ia juga memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan mengambil langkah tegas apabila terjadi serangan lanjutan terhadap sekutu di kawasan.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa pasar energi global masih sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik. Meski ada sinyal deeskalasi, ketidakpastian tetap tinggi dan berpotensi memicu fluktuasi harga dalam jangka pendek.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa stabilitas energi dunia tidak hanya ditentukan oleh faktor ekonomi, tetapi juga oleh arah kebijakan politik dan keamanan global.
(Anton)




















































