SUARAINDONEWS. COM, Jakarta – Belum juga Ramadan 2026 tiba, suasana sudah mulai “hangat”. Bukan karena cuaca, tapi gara-gara prediksi beda awal puasa antara Pemerintah dan Muhammadiyah yang kembali jadi bahan gosip nasional.
Di media sosial, obrolan soal “jadi puasa Rabu atau Kamis?” mendadak naik level. Ada yang santai, ada juga yang langsung hitung jatah cuti, bahkan ada yang panik mikirin stok kurma di dapur.
“Kalau Muhammadiyah puasa duluan, berarti sahur Rabu subuh. Tapi nunggu pemerintah katanya Kamis. Duh, ini puasa apa nunggu komando?” tulis salah satu netizen di X, disambut ratusan komentar yang sama bingungnya.
Tetangga Sebelah Sahur, Kita Masih Tidur?
Seperti tahun-tahun sebelumnya, Muhammadiyah sudah lebih dulu menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Sementara pemerintah masih akan menentukan lewat sidang isbat, yang biasanya bikin masyarakat harap-harap cemas sampai pengumuman terakhir.
Situasi ini bikin cerita klasik terulang.
Mulai dari:
- Tetangga sudah sahur, kita masih mimpi
- Speaker masjid sudah tadarus, grup RT masih debat
- Anak kos bingung: ikut orang tua atau ikut kalender?
“Yang puasa duluan jangan nyinyir, yang belakangan jangan nyolek,” celetuk seorang warganet, seolah jadi juru damai nasional.
Netizen: Beda Tanggal, Tapi Jangan Beda Hati
Menariknya, meski beda tanggal selalu jadi bahan gosip tahunan, sebagian besar masyarakat justru makin dewasa menyikapinya. Banyak yang menganggap ini sudah “tradisi Ramadan modern”.
“Yang penting niatnya, bukan tanggalnya,” komentar netizen lain, sambil menyelipkan emoji ketawa.
Bahkan ada yang bercanda, beda awal puasa justru bikin Ramadan terasa lebih panjang. “Pahalanya dobel, gosipnya juga,” tulis akun lainnya.
Kesimpulannya… Ramadan Tetap Ramadan
Mau mulai puasa lebih awal atau nunggu keputusan pemerintah, Ramadan tetap soal ibadah, bukan adu cepat. Perbedaan metode penentuan sudah jadi cerita lama yang selalu muncul menjelang bulan suci.
Yang jelas, satu hal tak pernah berbeda:
harga cabai naik, jadwal bukber penuh, dan alarm sahur tetap jadi musuh bersama.
(Anton)



















































