SUARAINDONEWS. COM, Jakarta – Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) mengapresiasi mahasiswa yang juga aktif berorganisasi, apalagi dalam organisasi berskala nasional. Seperti yang terhimpun dalam organisasi BEM PTMA (Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah). Karena menurutnya cita-cita mewujudkan Indonesia yang berkemajuan sebagaimana menjadi motto penting di Muhammadiyah, tidak mungkin tercapai tanpa hadirnya anak-anak bangsa dengan keaktifan organisasi yang kuat dan terkelola dengan baik sejak mereka muda.
Hal itu disampaikan HNW saat menerima audiensi Pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ’Aisyiyah (BEM PTMA) Indonesia di Ruang Kerja Wakil Ketua MPR, Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (9/2/2026).
HNW menilai peluang mahasiswa untuk berorganisasi dan memaksimalkan kehadirannya, saat ini sangat terbuka, karena selain dijamin oleh konstitusi itu juga bagian dari tuntutan reformasi yang dulu digaungkan oleh mahasiswa sendiri. Karena itu, ia mengingatkan agar kesempatan dan momentum positif tersebut dimaksimalkan untuk kemaslahatan mahasiswa dan kemajuan kehidupan berbangsa dan bernegara, tidak malah disia-siakan apalagi dimubadzirkan.
“Indonesia tidak melarang organisasi, bahkan itu bagian dari jaminan konstitusional juga tuntutan Reformasi. Maka jangan dimubazirkan peluang bagus itu,” ujarnya.
Ia juga mendorong mahasiswa memaksimalkan potensi yang dimiliki, baik dari lingkungan kampus, komunitas mahasiswa, maupun jaringan organisasi yang lebih luas, termasuk yang dimiliki Muhammadiyah dan Aisyiyah yang dinilainya memiliki kontribusi besar dalam sepanjang kehidupan bangsa dan negara Indonesia.
Menurut HNW, penerimaan publik terhadap Muhammadiyah, sejak dari era perjuangan memerdekakan Indonesia hingga sekarang dengan terus dilibatkannya tokoh-tokoh Muhammadiyah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, merupakan kepercayaan, peluang sekaligus tantangan, untuk terus membuktikan hadirnya kontribusi berkelanjutan bagi kemajuan bangsa dan negara.
*Pengalaman Organisasi dan Tantangan Generasi Muda*
Dalam kesempatan tersebut, HNW juga berbagi pengalaman pribadinya yang sejak kecil telah terbiasa berorganisasi. Ia menuturkan bahwa lingkungan keluarga dan pendidikan, termasuk saat menempuh pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor dan kemudian di Universitas Islam Madinah, membentuk kebiasaannya untuk aktif dalam berbagai kegiatan organisasi.
Ia mengungkapkan, pengalaman berorganisasi tersebut menjadi bekal penting hingga akhirnya aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan dan politik setelah kembali ke Indonesia.
HNW menilai setiap fase keterlibatan dalam kegiatan organisasi baik di tingkat lokal, ranting dan cabang, penting dimaknai sebagai “tabungan untuk keunggulan” yang manfaatnya dapat dipetik di masa depan. Dan itulah yang ia rasakan dan alami.
Lebih lanjut, ia juga mengingatkan bahwa kebebasan yang terjadi di era reformasi ini harus dimanfaatkan mahasiswa untuk hal-hal positif untuk menyelamatkan generasi mereka (Gen Z) yang akan menjadi panen bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045.
Ia mengingatkan di era keterbukaan informasi yang membanjiri Gen Z, membanjir pula berbagai hal yang menjadi tantangan yang dihadapi oleh para Mahasiswa (Gen Z), seperti munculnya generasi strawberry yg rentan, generasi antisosial yang mager (malas gerak), permissif, penyalahgunaan narkoba, judi online, hingga kekerasan sosial, yang menurutnya dapat merusak laku dan mentalitas mahasiswa (gen Z) dan karenanya akan merusak masa depan bangsa dengan cita-cita panen bonus demografi 2045, jika tidak dari sekarang diantisipasi dengan dihadirkannya solusi yang menyelamatkan mahasiswa(Gen Z).
Karena itu, ia mengajak mahasiswa khususnya di lingkungan PTMAI untuk menjadi pionir, berperan aktif menyiapkan diri songsong Generasi Emas 2045. Menurutnya, generasi unggul itu tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses panjang, kerja keras, dan keterlibatan aktif dalam kegiatan sosial maupun organisasi sejak dari dini.
Menurut HNW hal itu dibuktikan oleh sejarah pergerakan nasional Indonesia, di mana para tokoh yang nanti menjadi Pahlawan Nasional seperti Mohammad Hatta, Soekarno, termasuk Kahar Mudzakkir (tokoh Muhammadiyah) memulai perjuangan melalui aktivitas organisasi sejak masa muda. Ia menilai semangat dan fakta sejarwh tersebut perlu menjadi teladan yang menginspirasi bagi mahasiswa masa kini, termasuk para mahasiswa di lingkungan PTMA.
“Saya berharap mahasiswa sekarang menjadikan para pemuda Indonesia dahulu yang aktif berorganisasi hingga bisa berkontribusi mempersiapkan Indonesia merdeka, menjadi inspirasi dan spirit agar dapat mengulangi sejarah, berkontribusi positif menyongsong Indonesia Emas 2045,” kata dia.
Koordinator BEM PTMAI Indonesia Ahmad Rafiq mewakili organisasi mengapresiasi paparan dan arahan HNW kepada mahasiswa BEM PTMAI. Dalam kesempatan itu, Ahmad menyampaikan undangan langsung kepada HNW untuk hadir dalam kegiatan temu nasional BEM PTMA se Indonesia, yang akan digelar di Universitas Muhammadiyah Malang pada 19 Februari 2026.
Rafiq mengatakan, kegiatan tersebut akan diikuti oleh aliansi BEM PTMAI yang menaungi 179 kampus Muhammadiyah dan Aisyiyah di seluruh Indonesia. Dalam agenda itu, HNW direncanakan menjadi keynote speaker sekaligus menyampaikan materi sosialisasi kepada para mahasiswa.
(Anton)




















































