SUARAINDONEWS. COM, Jakarta – Upaya melindungi segenap bangsa Indonesia harus menjadi perhatian serius para pemangku kepentingan dalam menyikapi dampak konflik Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran.
“Amanat Konstitusi UUD 1945 untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan ikut dalam perdamaian dunia mesti menjadi perhatian para pengambil keputusan dalam menyikapi dampak konflik AS-Israel dan Iran,” kata Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam sambutannya pada diskusi daring bertema Nuklir Atau Pergantian Rezim? Perang Iran dan Pengaruhnya Bagi Indonesia dan Dunia yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (4/3).
Diskusi yang dimoderatori Luthfi Assyaukanie, Ph.D (Tenaga Ahli Wakil Ketua MPR RI) itu menghadirkan Dian Wirengjurit (Duta Besar Republik Indonesia untuk Iran periode 2012–2016), Denni Puspa Purbasari, M.Si, Ph.D (Dosen Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada), dan Broto Wardoyo, Ph.D. (Ketua Departemen Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Indonesia) sebagai penanggap.
Selain itu hadir pula Dr. Hendra Manurung (Dosen Hubungan Internasional, Universitas Pertahanan RI) sebagai penanggap.
Menurut Lestari, tidak berlebihan bila para pemangku kepentingan memberi perhatian khusus terhadap konflik AS-Israel dan Iran, serta dampak yang terjadi.
Rerie, sapaan akrab Lestari, berpendapat bahwa perang yang terjadi antara AS-Iran merupakan buntut dari konflik berkepanjangan kedua negara itu sejak Revolusi Iran 1979.
Menurut Rerie yang juga anggota Komisi X DPR RI itu, dampak perang AS-Israel dan Iran tidak hanya menerpa negara-negara di kawasan Timur Tengah, tetapi seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu mendorong agar para pemangku kepentingan mampu melahirkan kebijakan tepat yang dapat mengantisipasi sejumlah dampak perang AS-Israel dan Iran.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Iran periode 2012–2016 Dian Wirengjurit berpendapat bahwa alasan Amerika Serikat menyerang Iran karena ada ancaman eksistensial terhadap Israel, merupakan alasan yang dicari-cari.
Yang terjadi saat ini, ujar Dian, justru Iran yang eksistensinya terancam oleh AS dan Israel dengan berbagai cara.
Dian berpendapat, upaya AS mengganti rezim berkuasa di Iran akan menghadapi kesulitan, karena struktur kepemimpinan di Iran sangat kuat.
Sehingga, tambah dia, membunuh Pemimpin Iran Ali Khamenei, tidak serta merta membuat AS mampu mengambil alih kendali di Iran.
Dosen Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada Denni Puspa Purbasari berpendapat dampak perang AS-Israel dan Iran sangat terkait dengan energi, karena terjadi blokade Selat Hormuz yang merupakan lalu lintas minyak dunia.
Dampak ikutannya, jelas Denni, biaya logistik meningkat dan kepercayaan terhadap pasar menurun karena munculnya sejumlah ancaman dinamika politik dan keamanan.
Denni memperkirakan akan terjadi lonjakan harga minyak di awal perang sebesar 8%-10%. Bila perang semakin lama akan terjadi kenaikan harga minyak yang lebih besar.
Menurut Denni, dampak bagi Indonesia akan terlihat pada inflasi, neraca perdagangan eksternal, nilai tukar Rupiah, dan fiskal.
Denni menyarankan agar pemerintah fokus mengalokasikan anggaran untuk memberi perlindungan kepada kelompok masyarakat rentan yang terdampak gejolak ekonomi yang terjadi.
Menurut Denni, kondisi ekonomi domestik akan menjadi penentu bila terjadi guncangan ekonomi dunia.
Ketua Departemen Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Indonesia Broto Wardoyo berpendapat, perang yang terjadi antara AS-Israel dan Iran adalah terkait dengan upaya paksa pergantian rezim oleh AS.
Menurut Broto, sejatinya AS sudah menyerang Iran dua kali pada Juni 2025 dan Februari 2026.
Serangan AS ke Iran pada Juni 2025, tambah Broto, menyasar sejumlah fasilitas nuklir di Iran, pembunuhan ahli nuklir dan komandan militer.
Pada serangan Februari 2026 lalu, ungkap Broto, ditujukan untuk memutus rantai kepemimpinan dan struktur komando militer.
Dosen Hubungan Internasional, Universitas Pertahanan RI Hendra Manurung berpendapat bahwa apa yang dilakukan Iran dalam merespons serangan AS-Israel merupakan hal yang wajar.
Hendra menilai, tidak mungkin Iran menggunakan nuklir untuk senjata pemusnah massal, seperti yang dituduhkan AS dan Israel.
Karena, tambah dia, Iran adalah penandatangan perjanjian nuklir untuk perdamaian.
Sehingga, jelas Hendra, terjadi pergeseran tujuan yang signifikan oleh AS dalam serangan yang dilakukan terhadap Iran.
Menurut Hendra, intervensi AS untuk menumbangkan rezim yang berkuasa di sejumlah negara, kerap kali menyisakan konflik berkepanjangan di negara yang bersangkutan.
Wartawan senior Usman Kansong mengungkapkan dalam lima hari perang antara AS-Israel dan Iran ini, masyarakat Indonesia bertanya-tanya apakah bisa merayakan Lebaran?
Karena, ujar Usman, saat ini masyarakat khawatir apakah ada cukup bahan bakar untuk kendaraan mudik.
Usman membayangkan pada situasi ini presiden memberi penjelasan secara transparan kepada masyarakat dampak ekonomi yang dialami Indonesia akibat perang AS-Iran.
Presiden, ujar Usman, harus mampu membangun solidaritas masyarakat dengan menyajikan mitigasi ekonomi yang akan dihadapi.
Usman berharap Indonesia menyikapi konflik AS-Iran ini dengan langkah nyata seperti antara lain keluar dari keanggotaan Board of Peace dan merealokasi anggaran untuk program Makan Bergizi Gratis ke anggaran subsidi bahan bakar minyak.
(Anton)



















































