SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Bersiaplah menengadah lebih sering. Tahun 2026 dipastikan jadi tahun yang sibuk bagi langit malam. Dari hujan meteor yang berondongan, gerhana bulan total yang bikin Bulan memerah, hingga planet-planet terang yang saling mendekat, langit akan menyuguhkan pertunjukan kosmik dari Januari hingga Desember.
Fenomena-fenomena ini bukan cuma indah dipandang, tapi juga menyimpan pelajaran penting tentang pergerakan benda langit dan dinamika alam semesta. Kabar baiknya, sebagian besar peristiwa ini bisa dinikmati tanpa teleskop canggih.
Januari: Tahun Dibuka Ledakan Meteor dan Jupiter Paling Terang
Tahun 2026 langsung tancap gas dengan hujan meteor Quadrantid yang aktif sejak akhir Desember 2025 dan mencapai puncak pada 4 Januari. Sayangnya, Bulan purnama yang juga menjadi supermoon pertama tahun ini akan mencuri perhatian, membuat jumlah meteor yang terlihat berkurang.
Namun kekecewaan itu terbayar pada 10 Januari, ketika Jupiter berada di posisi oposisi. Di momen ini, planet raksasa gas tersebut tampil paling terang dan bisa diamati sepanjang malam, menjadi objek sempurna bagi pengamat pemula.
Maret: Blood Moon Menggantung di Langit, Aurora Ikut Mengintip
Awal Maret menghadirkan salah satu peristiwa paling dramatis: gerhana bulan total pada 2–3 Maret. Bulan akan berubah warna menjadi jingga kemerahan dalam fenomena yang dikenal sebagai blood moon, akibat cahaya Matahari yang dibiaskan oleh atmosfer Bumi.
Gerhana ini dapat disaksikan di sebagian besar wilayah Amerika, Asia, dan Oseania. Pada waktu yang berdekatan, ekuinoks musim semi di Belahan Bumi Utara juga meningkatkan peluang munculnya aurora, karena aktivitas Matahari masih tergolong tinggi.
April: Hujan Meteor Lyrid, Cantik Tapi Tak Ribut
April membawa hujan meteor Lyrid yang memuncak pada 22 April. Meski jumlahnya tidak terlalu banyak, Lyrid terkenal dengan meteor-meteor terang yang meninggalkan jejak cahaya cukup lama. Kondisi Bulan yang bersahabat membuat pertunjukan ini layak ditunggu.
Mei: Jejak Komet Halley Menyapa Lagi
Pada 5–6 Mei, hujan meteor Eta Aquariids mencapai puncaknya. Fenomena ini berasal dari sisa debu Komet Halley, komet legendaris yang mengunjungi Tata Surya bagian dalam setiap 76 tahun sekali. Meski Bulan hampir penuh dan bisa mengganggu pengamatan, meteor cepat Eta Aquariids tetap berpotensi mencuri perhatian.
Juni: Venus dan Jupiter Berdekatan, Langit Seperti Pamer Perhiasan
Juni menghadirkan momen langit yang lebih santai tapi tak kalah memesona: konjungsi Venus dan Jupiter. Dua planet paling terang ini akan tampak berdampingan di langit barat daya pada malam hari, terlihat jelas bahkan oleh mata telanjang.
Juli–Agustus: Pesta Meteor Perseid, Favorit Sepanjang Masa
Pertengahan tahun menjadi waktu emas bagi pencinta langit malam. Hujan meteor Perseid aktif dari Juli hingga Agustus, dengan puncak pada 12–13 Agustus. Tahun ini, Perseid hadir bertepatan dengan fase Bulan baru, menciptakan kondisi ideal untuk menyaksikan puluhan hingga ratusan meteor per jam melesat di langit.
September: Siang dan Malam Seimbang, Harvest Moon Menyusul
Pada September, ekuinoks musim gugur terjadi ketika durasi siang dan malam hampir sama. Tak lama setelahnya, Bulan purnama terdekat yang dikenal sebagai Harvest Moon muncul pada 26 September. Nama ini berasal dari tradisi pertanian Eropa, ketika cahaya Bulan membantu petani memanen hasil ladang hingga malam hari.
Oktober: Orionid, Meteor Cepat dari Rasi Orion
Oktober diramaikan oleh hujan meteor Orionid yang aktif hingga awal November, dengan puncak sekitar 21 Oktober. Meski cahaya Bulan berpotensi mengganggu, periode aktif yang panjang memberi banyak kesempatan bagi pengamat untuk berburu meteor.
November: Pleiades, Tujuh Saudari di Langit Malam
November menghadirkan suasana lebih tenang lewat kemunculan gugus bintang Pleiades di rasi Taurus. Gugus yang juga dikenal sebagai Tujuh Saudari ini dapat dilihat dengan mata telanjang, namun akan tampak jauh lebih memukau jika diamati dengan teropong atau teleskop kecil.
Desember: Supermoon dan Cold Moon Menutup Tahun
Menjelang akhir tahun, langit kembali menyuguhkan supermoon sekaligus Cold Moon pada 23–24 Desember. Bulan akan tampak lebih besar dan terang dari biasanya, menjadi penutup dramatis bagi rangkaian pertunjukan kosmik sepanjang 2026.
Langit 2026 jelas bukan sekadar latar belakang malam. Ia adalah panggung raksasa yang menampilkan pelajaran sains, keindahan, dan rasa kagum—gratis, tanpa tiket, dan bisa dinikmati siapa saja yang mau menengadah.
(Anton)




















































