Media briefing ini menyoroti masih tingginya tantangan eliminasi kusta di Indonesia, terutama keterlambatan deteksi dini serta stigma dan diskriminasi terhadap penderita dan penyintas kusta.
Direktur Eksekutif The Habibie Center Mohammad Hasan Ansori menyampaikan bahwa Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan jumlah penderita kusta tertinggi di dunia. Tantangan utama berasal dari rendahnya literasi masyarakat, kesalahpahaman tentang kusta, stigma sosial, keterbatasan pendanaan, serta akses obat.
The Habibie Center juga memaparkan temuan awal program Developing an Alternative Model for Community-Based Early Detection and Combating Stigma of Leprosy in Indonesia yang dilaksanakan di Probolinggo, Tojo Una-Una, Mimika, dan Lembata. Program ini bertujuan mengembangkan model deteksi dini berbasis komunitas dan pengurangan stigma yang dapat diintegrasikan ke dalam kebijakan publik.
WHO Goodwill Ambassador Yohei Sasakawa menegaskan komitmennya mendukung Indonesia dalam pemberantasan kusta. Ia menekankan bahwa kusta bukan penyakit kutukan, dapat disembuhkan, dan upaya eliminasi harus disertai penghapusan diskriminasi.
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa kusta tidak mudah menular dan dapat dihentikan penularannya dengan pengobatan antibiotik yang tepat. Ia menekankan pentingnya edukasi publik untuk melawan disinformasi terkait kusta.
Ketua Dewan Pembina The Habibie Center Ilham Akbar Habibie menyatakan kesiapan The Habibie Center untuk terus berkolaborasi dengan Kementerian Kesehatan dan mitra internasional dalam mendukung eliminasi kusta sebagai bagian dari peningkatan kualitas hidup dan keadilan sosial di Indonesia.
(Anton)




















































