SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Krisis energi global mulai berdampak nyata ke negara berkembang. India kini menghadapi tekanan besar akibat terganggunya pasokan LPG yang selama ini menjadi kebutuhan utama jutaan rumah tangga.
Sebagai salah satu importir LPG terbesar di dunia, India sangat bergantung pada pasokan luar negeri. Ketika konflik geopolitik memanas dan distribusi terganggu, efeknya langsung terasa hingga ke sektor rumah tangga dan usaha kecil.
Dalam situasi ini, berbagai kelompok industri mulai mendorong solusi alternatif. Organisasi seperti Indian Sugar & Bio-Energy Manufacturers Association, Federation of Indian Petroleum Industry, dan Grain Ethanol Manufacturers Association активно mengampanyekan penggunaan etanol sebagai bahan bakar memasak.
Salah satu yang didorong adalah pengembangan kompor berbasis etanol. Teknologi ini dinilai lebih murah, lebih bersih, dan dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG. Sejumlah lembaga seperti LPG Equipment Research Centre dan berbagai kampus teknologi ternama di India juga ikut terlibat dalam pengembangannya.
Selain itu, laporan dari International Institute for Sustainable Development menyebut penggunaan etanol dan biogas berpotensi menghemat subsidi LPG hingga puluhan miliar dolar dalam beberapa tahun ke depan.
Namun, para ahli mengingatkan bahwa etanol belum bisa sepenuhnya menggantikan LPG. Saat ini, sebagian besar produksi etanol masih difokuskan untuk campuran bahan bakar kendaraan.
Pemerintah India sendiri sudah lebih dulu mendorong program bahan bakar campuran, seperti E20, yaitu bensin dengan kandungan 20 persen etanol. Bahkan, kini tengah dibahas kemungkinan peningkatan hingga 25 persen.
Langkah ini menunjukkan arah kebijakan energi India yang mulai beralih ke sumber yang lebih berkelanjutan. Namun di sisi lain, krisis ini juga menjadi pengingat bahwa ketergantungan pada energi impor masih menjadi tantangan besar bagi banyak negara berkembang.
(Anton)




















































