SUARAINDONEWS.COM, YOKOHAMA – Dunia otomotif kembali mendapat perhatian setelah raksasa energi asal Jepang, ENEOS Corporation, memperkenalkan teknologi pembuatan bensin sintetis atau e-fuel yang bahan bakunya berasal dari udara dan air. Inovasi ini dinilai berpotensi menjadi solusi bagi kendaraan bermesin pembakaran internal di tengah tren kendaraan listrik.
Teknologi tersebut memberikan harapan baru bagi pemilik mobil dan motor berbahan bakar fosil yang belum beralih ke kendaraan listrik. Jika dikembangkan secara massal, konsep produksi bahan bakar dari udara dapat menjadi alternatif energi yang lebih ramah lingkungan.
Udara dan Air Jadi Bensin, Begini Prosesnya
Teknologi yang dikembangkan di fasilitas Yokohama bekerja dengan menangkap karbon dioksida (CO₂) langsung dari atmosfer. Karbon dioksida tersebut kemudian digabungkan dengan hidrogen yang diperoleh dari air melalui proses elektrolisis.
Hasil dari proses tersebut adalah bahan bakar cair sintetis yang secara kimiawi mirip dengan bensin konvensional. Namun, bahan bakar ini berpotensi bersifat karbon-netral karena emisi yang dihasilkan saat pembakaran sebanding dengan karbon yang sebelumnya ditangkap dari udara.
Bisa Langsung Digunakan Tanpa Modifikasi Mesin
Keunggulan utama e-fuel ini adalah sifatnya sebagai drop-in fuel, sehingga dapat digunakan langsung pada kendaraan berbahan bakar bensin yang ada saat ini tanpa modifikasi mesin.
Dalam ajang World Expo 2025 Osaka, teknologi ini diuji melalui kolaborasi dengan sejumlah produsen otomotif Jepang, antara lain Toyota, Mazda, Suzuki, Subaru, dan Daihatsu. Kendaraan operasional yang digunakan dalam kegiatan tersebut dilaporkan dapat berjalan normal menggunakan bahan bakar sintetis.
Target Produksi 2040
Meskipun teknologi ini masih menghadapi tantangan biaya produksi, ENEOS menargetkan pada tahun 2040 fasilitas tersebut mampu menghasilkan sekitar 10.000 barel e-fuel per hari.
Jika target tersebut tercapai, bahan bakar sintetis dari udara berpotensi menjadi alternatif bagi bensin fosil sekaligus melengkapi penggunaan kendaraan listrik dalam transisi energi global.
Inovasi ini membuka peluang baru dalam industri otomotif, termasuk mempertahankan penggunaan kendaraan lama dengan emisi lebih rendah, memanfaatkan infrastruktur yang sudah ada, serta memperluas pilihan energi di masa depan.
(Anton)



















































