SUARAINDONEWS.COM, Jakarta — Jepang dikenal sebagai salah satu kekuatan industri otomotif terbesar di dunia. Perusahaan seperti Toyota Motor Corporation, Honda Motor Co., dan Nissan Motor Co. memproduksi jutaan kendaraan setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan pasar global. Mobil-mobil buatan Jepang digunakan di berbagai benua, dari Asia hingga Amerika dan Eropa.
Namun di balik statusnya sebagai raksasa otomotif, Jepang justru membangun sistem kota yang tidak bergantung pada mobil pribadi. Negara tersebut menata ruang hidup dengan pendekatan yang menempatkan manusia sebagai pusat perencanaan, bukan kendaraan.
Salah satu contoh nyata adalah proyek Toyota Woven City yang dikembangkan oleh Toyota di kaki Gunung Fuji. Kota ini dirancang sebagai laboratorium hidup untuk menguji teknologi mobilitas masa depan, termasuk kendaraan otonom, energi hidrogen, robotika, dan infrastruktur pintar. Namun yang menjadi sorotan bukan hanya teknologinya, melainkan desain kotanya yang memisahkan jalur kendaraan, pejalan kaki, dan pengguna mobilitas mikro demi keselamatan dan kenyamanan warga.
Di kota-kota besar seperti Tokyo dan Osaka, transportasi publik menjadi tulang punggung mobilitas. Kereta api, bus, dan jalur sepeda terintegrasi dengan baik, sehingga masyarakat tidak harus memiliki mobil untuk hidup nyaman. Kepemilikan kendaraan bukanlah ukuran status, melainkan pilihan rasional sesuai kebutuhan.
Pendekatan ini memberi pelajaran penting bagi Indonesia. Di tengah pertumbuhan industri otomotif nasional dan peningkatan jumlah kendaraan pribadi, perencanaan kota perlu tetap berorientasi pada manusia. Transportasi publik yang efisien, trotoar yang aman, ruang hijau yang memadai, serta kawasan hunian yang terintegrasi menjadi kunci menciptakan kota yang layak huni.
Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan model pembangunan yang seimbang: mendukung pertumbuhan industri otomotif sekaligus memperkuat sistem transportasi massal dan infrastruktur ramah pejalan kaki. Konsep kota berkelanjutan dan mobilitas rendah emisi juga sejalan dengan komitmen pengurangan emisi karbon nasional.
Pengalaman Jepang menunjukkan bahwa kemajuan industri tidak harus berlawanan dengan kualitas hidup masyarakat. Produksi kendaraan dapat berjalan beriringan dengan pembangunan kota yang sehat, aman, dan inklusif.
Pesan utamanya jelas: masa depan transportasi bukan sekadar tentang memiliki lebih banyak mobil, tetapi tentang menyediakan lebih banyak pilihan hidup yang nyaman, efisien, dan berkelanjutan bagi seluruh warga.
(Anton)



















































