SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Sebuah langkah tak biasa datang dari Italia yang kini membuat dunia kerja ikut “berempati”. Melalui putusan hukum dan praktik ketenagakerjaan terbaru, pekerja kini dapat mengambil cuti berbayar untuk merawat hewan peliharaan yang sakit—dan ini bukan sekadar alasan mengada-ada.
Dalam kasus yang menjadi sorotan, seorang karyawan universitas di Roma berhasil memperoleh cuti berbayar selama dua hari untuk merawat anjingnya yang baru saja menjalani operasi. Ia bahkan mendapatkan tambahan waktu guna memastikan proses pemulihan hewan tersebut berjalan optimal.
Langkah ini tidak datang secara tiba-tiba. Asosiasi perlindungan hewan Italia, LAV, turut mendorong agar perawatan hewan peliharaan diakui sebagai bagian dari “alasan pribadi atau keluarga yang serius”. Hasilnya, argumen tersebut diterima dalam kerangka hukum ketenagakerjaan.
Mengacu pada Perjanjian Perundingan Kerja Bersama (NCBA), pekerja memang memiliki hak atas cuti berbayar apabila dapat membuktikan adanya alasan yang serius. Kini, untuk pertama kalinya, kategori tersebut diperluas—tidak hanya untuk manusia, tetapi juga untuk hewan peliharaan.
Dengan demikian, jika sebelumnya izin tidak masuk kerja karena hewan peliharaan sakit kerap dianggap alasan lemah, kini justru memiliki dasar hukum yang kuat.
Lebih lanjut, hukum di Italia juga memperkuat posisi tersebut. Dalam Pasal 727 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, pemilik hewan dapat dikenai sanksi apabila menelantarkan hewan dalam kondisi menderita. Artinya, merawat hewan bukan hanya pilihan moral, tetapi juga kewajiban hukum.
Kombinasi antara kewajiban hukum dan hak pekerja ini menciptakan realitas baru: tidak masuk kerja demi merawat hewan bukan lagi pelanggaran, melainkan bentuk tanggung jawab.
Fenomena ini juga mencerminkan perubahan cara pandang global. Hewan peliharaan kini semakin dipandang bukan sekadar “milik”, melainkan bagian dari keluarga yang memiliki nilai emosional dan sosial.
Meskipun demikian, kebijakan ini masih berbasis preseden kasus dan belum sepenuhnya menjadi aturan nasional yang seragam. Namun, banyak pihak menilai hal ini sebagai langkah awal menuju regulasi yang lebih jelas di masa depan.
Di tengah dunia kerja yang semakin fleksibel, Italia seolah menyampaikan pesan sederhana: jika keluarga sakit, wajar untuk tetap di rumah—dan kini, keluarga tersebut tidak selalu harus manusia.
(Anton)




















































