SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Isu legendaris soal 57 ton emas milik Presiden pertama RI, Soekarno, kembali naik daun. Katanya, emas batangan itu disimpan rapi di bank Swiss, nilainya kalau dikonversi sekarang tembus Rp130 triliun. Lebih dramatis lagi, beredar cerita bahwa emas tersebut pernah dipinjam oleh Presiden AS, John F. Kennedy**, demi membiayai pembangunan Amerika Serikat di era 1960-an.
Plotnya sudah kayak film Hollywood. Sayangnya… sejarah berkata lain.
Fakta Versi Arsip, Bukan Versi Grup WA
Dalam berbagai catatan sejarah, termasuk wawancara Bung Karno dengan jurnalis AS Cindy Adams** yang kemudian dibukukan dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia** (1964), justru tergambar kondisi yang jauh dari kata “sultan Swiss”.
Soekarno sendiri mengaku gajinya sebagai presiden hanya sekitar US$220. Ia tidak memiliki rumah pribadi, tidak punya tanah, dan hidup berpindah dari satu istana negara ke istana lainnya karena memang itu fasilitas jabatan.
Bahkan, dalam wawancara tersebut, ia bercerita pernah dibelikan piyama oleh seorang duta besar karena pakaian tidurnya sudah robek.
“Adakah Kepala Negara yang melarat seperti aku dan sering meminjam-minjam dari ajudannya?”
Kalimat itu bukan satire netizen. Itu pernyataan langsung dari Bung Karno.
Presiden “Termiskin di Dunia”?
Putra sulungnya, Guntur Soekarnoputra**, juga pernah angkat suara dalam opini di Media Indonesia (26 September 2020). Ia menyebut ayahnya kerap meminjam uang sejak masa pergerakan, bahkan kepada sahabat seperti Agoes Moesin Dasaad.
Menurut Guntur:
“Sebagai presiden, Bung Karno adalah presiden yang paling miskin di dunia ini. Ia tidak punya tanah, tidak punya rumah, apalagi logam-logam mulia seperti yang digembar-gemborkan orang selama ini.”
Soal emas 57 ton di Swiss? Guntur menyebut cerita itu tidak masuk akal. Ia bahkan mempertanyakan secara logis: kalau benar ada emas berton-ton di bank Swiss, apakah ruang penyimpanan di sana cukup?
Sejarawan Ikut Angkat Alis
Sejarawan ternama Ong Hok Ham** dalam bukunya Kuasa dan Negara** (1983) juga membantah keras narasi harta segunung tersebut.
Ia mematahkan berbagai mitos, termasuk cerita bahwa Soekarno mewarisi kekayaan besar dari Kerajaan Mataram Islam. Menurut Ong, secara historis klaim tersebut tidak masuk akal—bahkan kerajaan kuno pun tidak memiliki harta sebesar yang dibayangkan, dan Mataram saat itu masih memiliki utang kepada VOC.
Argumennya sederhana dan menohok:
Kalau benar punya emas berton-ton, mengapa Bung Karno hidup dalam keterbatasan hingga akhir hayatnya?
Antara Legenda dan Realita
Narasi emas 57 ton memang terdengar sensasional—ada Swiss, ada JFK, ada triliunan rupiah. Dramatis, penuh intrik, dan mudah viral.
Namun berdasarkan catatan sejarah, wawancara langsung, kesaksian keluarga, hingga analisis sejarawan, tidak ada bukti kuat yang mendukung klaim tersebut.
Alih-alih presiden dengan rekening rahasia raksasa, potret yang muncul justru seorang kepala negara yang hidup sederhana dan sering kekurangan dana pribadi.
Cerita emas Rp130 triliun milik Soekarno lebih cocok masuk kategori legenda politik ketimbang fakta sejarah yang terverifikasi.
Kadang memang, kisah “presiden dengan harta karun Swiss” terdengar lebih seru daripada realita “presiden dengan piyama robek”. Tapi sejarah tetap butuh data, bukan drama.
Semoga ini membantu meluruskan mitos yang terlanjur dianggap fakta.




















































