SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Dewan Energi Nasional mulai tancap gas di jalur nuklir. Kali ini bukan sekadar wacana, DEN resmi memperkuat kerja sama dengan Amerika Serikat dan Jepang untuk mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir skala kecil atau Small Modular Reactor (SMR). Targetnya jelas: ketahanan energi nasional makin kokoh dan ambisi Net Zero Emission (NZE) 2060 tidak cuma jadi slogan.
Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional, Dadan Kusdiana, menegaskan bahwa nuklir kini sudah naik kasta dalam peta jalan transisi energi. Kalau dulu disebut opsi terakhir, sekarang justru jadi mandat strategis untuk menyeimbangkan bauran energi primer nasional.
Menurut Dadan, arah kebijakan ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto melalui Asta Cita, yang menekankan penguatan pertahanan dan keamanan nasional serta swasembada pangan, energi, dan air. Artinya, urusan listrik bukan cuma soal nyala lampu, tapi juga soal kedaulatan.
Kenapa pilih SMR? Karena Indonesia ini negara kepulauan, bukan satu daratan luas. SMR dinilai lebih fleksibel dibanding reaktor besar konvensional. Bisa ditempatkan di wilayah terpencil, terhubung dengan grid kecil, dan mendukung pusat industri maupun ekonomi biru. Singkatnya, nuklir versi ringkas tapi tetap serius.
Dalam RUPTL 2025–2034, kapasitas awal ditargetkan 500 megawatt yang akan mulai disebar strategis pada 2032, terutama di sistem kelistrikan Sumatera dan Kalimantan. Jadi ini bukan proyek besok pagi, tapi roadmap jangka panjang yang sudah dipatok arahnya.
Kerja sama trilateral ini juga bukan formalitas. Amerika Serikat disebut akan menyediakan desain SMR mutakhir sekaligus cetak biru regulasinya. Jepang menyumbang pengalaman manufaktur canggih dan standar keselamatan ketat. DEN menegaskan, Indonesia tidak ingin sekadar membangun PLTN, tetapi juga membangun sistem pengawasan, keamanan, dan perlindungan sesuai standar internasional tertinggi.
Langkah ini menandai babak baru transisi energi nasional. Dari energi fosil ke energi bersih, dari wacana ke eksekusi. Tinggal satu pertanyaan yang selalu muncul tiap dengar kata “nuklir”: publik siap ikut percaya?
(Anton)




















































