SUARAINDONEWS.COM, Jakarta — Harga gas alam cair alias LNG lagi naik-naiknya, dan bukan naik tipis-tipis—ini naiknya kayak anak kos baru gajian: langsung gas pol. Dampaknya? Tarif sewa kapal LNG ikut melesat dan para pemain sektor pelayaran lagi-lagi jadi pihak yang paling cepat panen cuan.
Data Refinitiv menunjukkan harga gas alam AS per Rabu (3/12/2025) ditutup di US$4,95 per MMBtu, yang merupakan level tertinggi dalam tiga tahun. Kalau ditarik dari titik terendah Oktober? Sudah melonjak 65%. Itu bukan kenaikan, itu sprint.
Eropa ‘Move On’ dari Gas Rusia, AS Jadi Rebutan
Kenaikan harga ini terseret derasnya permintaan global — terutama setelah Eropa mantap menghapus LNG Rusia total pada 2027. Otomatis, Eropa makin nempel ke AS, Qatar, dan siapa pun yang bisa suplai LNG lebih cepat dari mantan yang balikan.
Bahkan ekspor LNG AS pada November naik 40% YoY menjadi 10,7 juta ton. Dunia benar-benar menyedot suplai Amerika sampai produsen nggak sempat napas.
Cuaca dingin di Amerika Utara juga ikut bikin rame. Ramalan front dingin bikin permintaan gas untuk pemanas melejit, dan laporan EIA sampai mencatat penarikan 11 miliar kaki kubik dari storage. Musim dingin baru mulai, storage sudah ngos-ngosan.
Tarif Kapal LNG Gila-Gilaan: Atlantik Tembus US$100.000/Hari
Mulai pertengahan November, tarif sewa LNG naik kayak grafik saham gorengan hari pertama IPO.
Tarif spot Atlantik tembus di atas US$100.000 per hari, tertinggi sejak awal 2024.
Di kawasan Pasifik? Memang lebih jinak, tapi tetap tiga kali lipat dari awal Oktober, menyentuh >US$75.000/hari.
Tiga biang keroknya:
- Ekspor LNG global melonjak 14% YoY — terutama dari AS ke Eropa.
- Floating storage naik 40% — trader pada naro LNG di laut sambil nunggu harga naik lagi.
- Musim dingin datang — permintaan gas meledak, tarif kapal ikut kebelet naik.
Operator kapal LNG sekarang sumringah setelah 9 bulan sebelumnya jadi korban harga spot rendah.
Emiten Pelayaran Indonesia Jadi Penerima “Berkah Alam Semesta”
Tren LNG dunia yang panas ini bikin HUMI, GTSI, dan SMDR jadi bintang tamu paling bersinar. Ketiganya punya exposure langsung ke bisnis kapal LNG dan energi, dan sekarang betul-betul lagi “ketiban durian runtuh” (untungnya bukan kapalnya yang runtuh).
Kinerja 9M25 mereka mulai kelihatan manis:
🔹 HUMI
- Pendapatan: naik 8,84% YoY → Rp1,58 triliun
- Laba bersih: turun 8,44% YoY → Rp119 miliar
(Pendapatan naik, laba turun — capek ya, UMKM?)
🔹 SMDR
- Pendapatan: naik 11,60% YoY → Rp9,37 triliun
- Laba bersih: naik 7,74% YoY → Rp706,95 miliar
(Ini baru strong!)
🔹 GTSI
- Pendapatan: naik 17,18% YoY → Rp440,9 miliar
- Laba bersih: turun 20,87% YoY
(Pendapatan naik, tapi biaya kayaknya lagi senang balapan.)
Prospek Tetap Kinclong, Tapi Valuasinya… Sudah Nanjak
IEA memperkirakan pasokan LNG global akan melompat 40 miliar m³ pada 2026, menandai era ekspansi LNG besar-besaran. Permintaan dari Asia, Afrika, dan Timur Tengah juga diproyeksikan masuk mode “rakus”.
Harga LNG menurut Woodside Energy diperkirakan tetap strong sampai akhir 2025.
Artinya?
Bisnis kapal LNG masih seksi.
HUMI, GTSI, SMDR masih akan kebagian kue besar perdagangan LNG global.
TAPI…
Udah mulai mahal, bossku.
Kalau lihat PBV terbaru?
Tiga-tiganya sudah premium.
Harga sahamnya naik terlalu cepat, kayak investor FOMO habis nonton video TikTok “3 saham cuan sebelum tidur”.
Peluang Ada, Tapi Jangan Masuk Sembarangan
Sektor perkapalan energi memang lagi kinclong, tapi buat investor:
✔ Momentum masih ada
✔ Fundamental global mendukung
✔ Permintaan LNG gila-gilaan
Namun…
Valuasi beberapa emiten sudah agak pedas.
Perlu timing yang cakep.
Perlu teknikal, jangan asal gas karena lihat candle hijau.
Investor bijak itu seperti nakhoda: tahu kapan angkat jangkar, tahu kapan harus tunda berlayar.
(Anton)




















































