SUARAINDONEWS. COM, Jakarta – Isu lama kembali meledak dan menyeret nama besar. Mantan Menteri Keuangan Amerika Serikat, Larry Summers, memilih mundur dari seluruh komitmen publiknya setelah korespondensi email pribadinya dengan mendiang Jeffrey Epstein terungkap ke publik.
Summers, yang menjabat Menkeu AS pada era Presiden Bill Clinton, menyatakan keputusannya itu sebagai bentuk tanggung jawab moral. Dalam pernyataan resminya, ia mengaku menyesal dan malu atas pilihannya tetap menjalin komunikasi dengan Epstein, yang dikenal sebagai pelaku kejahatan seksual.
“Saya sangat malu atas tindakan saya dan menyadari rasa sakit yang ditimbulkannya. Saya bertanggung jawab penuh atas keputusan saya yang salah untuk terus berkomunikasi dengan Tuan Epstein,” ujar Summers, dikutip dari CNBC International, Selasa (18/11/2025).
Meski menarik diri dari seluruh aktivitas publik, Summers menegaskan masih akan menjalankan kewajibannya sebagai dosen di Universitas Harvard. Menurutnya, langkah mundur ini merupakan bagian dari proses pemulihan pribadi.
Nama Summers selama ini dikenal luas di lingkaran elite global. Ia tercatat duduk di dewan perusahaan kecerdasan buatan OpenAI dan menjadi kolumnis tetap Bloomberg. Namun hingga berita ini diturunkan, kedua institusi tersebut belum memberikan pernyataan resmi terkait polemik yang menyeret Summers.
Kasus ini kembali mencuat setelah media mahasiswa The Harvard Crimson mempublikasikan rangkaian email antara Summers dan Epstein. Dokumen tersebut berasal dari lebih dari 20.000 arsip yang dirilis Komite Pengawasan DPR AS pekan lalu.
Dalam laporan tersebut, terungkap Summers pernah meminta “nasihat pribadi” kepada Epstein terkait hubungan romantisnya dengan seorang perempuan yang ia sebut sebagai “anak didiknya”. Pertukaran email dan pesan teks dari November 2018 hingga Juli 2019 menunjukkan Summers beberapa kali meminta pandangan Epstein, yang ia panggil sebagai teman dekat.
Tekanan terhadap Summers pun kian menguat. Senator Elizabeth Warren, mantan profesor Harvard Law School, secara terbuka mendesak Universitas Harvard untuk memutus hubungan dengan Summers. Ia menilai relasi Summers dengan Epstein membuatnya tidak layak dipercaya sebagai pendidik.
“Jika ia tidak mampu menjaga jarak dari seorang terpidana kejahatan seksual setelah semua fakta diketahui publik, maka Summers tidak bisa dipercaya untuk menasihati pembuat kebijakan atau mengajar mahasiswa di Harvard,” kata Warren kepada CNN International.
Saat ini, Summers memimpin Mossavar-Rahmani Center for Business and Government di Harvard Kennedy School dan tercatat mengajar lima mata kuliah pada semester berjalan.
Sementara itu, skandal Epstein kembali menjadi sorotan nasional. Jaksa Agung Florida, Pam Bondi, mengungkapkan bahwa atas permintaan Presiden Donald Trump, pihaknya telah meminta Jaksa AS Manhattan untuk menyelidiki hubungan Epstein dengan sejumlah tokoh berpengaruh. Nama-nama yang disebut termasuk Larry Summers, mantan Presiden Bill Clinton, investor teknologi Reid Hoffman, hingga petinggi JPMorgan Chase.
Di tengah tekanan publik, DPR AS dijadwalkan melakukan pemungutan suara atas rancangan undang-undang yang mewajibkan Departemen Kehakiman merilis dokumen investigasi Epstein. Epstein sendiri diketahui meninggal dunia pada 2019 karena bunuh diri saat menunggu persidangan kasus perdagangan seks anak tingkat federal.
Skandal ini kembali membuka luka lama dan menempatkan para elite dunia di bawah sorotan tajam, memperlihatkan bahwa bayang-bayang Epstein masih menghantui panggung kekuasaan global hingga kini.
(Anton)




















































