SUARAINDONEWS. COM, Jakarta – Di usia yang belum menyentuh kepala tiga, Alexandr Wang sudah berada di jajaran tokoh paling berpengaruh di dunia kecerdasan buatan. Namanya kembali jadi sorotan setelah Scale AI, perusahaan yang ia dirikan, mencapai valuasi sekitar US$ 29 miliar, menjadikannya salah satu startup AI paling bernilai di dunia.
Wang mendirikan Scale AI pada 2016, saat usianya baru awal 20-an. Kala itu, ia memilih keluar dari bangku kuliah MIT dan fokus membangun perusahaan yang mengerjakan satu hal krusial: menyediakan data berlabel berkualitas tinggi untuk melatih kecerdasan buatan. Di balik gemerlap AI generatif, pekerjaan Scale AI menjadi fondasi penting yang jarang terlihat publik.
Seiring meledaknya teknologi AI, peran Scale AI semakin vital. Perusahaan ini menjadi mitra bagi banyak raksasa teknologi global, mulai dari perusahaan chip, platform cloud, hingga pengembang model AI skala besar. Tanpa data yang rapi dan terstruktur, algoritma canggih tak akan pernah bekerja optimal—dan di situlah Scale AI memainkan perannya.
Tahun 2025 menjadi titik penting dalam perjalanan Wang. Perusahaan teknologi Meta menggelontorkan investasi besar, sekitar US$ 14 miliar, untuk mengambil hampir setengah kepemilikan Scale AI. Dalam kesepakatan itu, Alexandr Wang pun bergeser dari kursi CEO dan bergabung langsung ke Meta untuk memimpin proyek ambisius di bidang kecerdasan buatan tingkat lanjut.
Langkah ini menempatkan Wang di pusat strategi AI global. Di usianya yang baru 29 tahun, ia kini memimpin tim besar, berhadapan langsung dengan tantangan teknologi, etika, dan persaingan antarnegara dalam pengembangan AI. Perjalanannya tidak lepas dari sorotan dan kritik, terutama soal pengalaman dan arah pengembangan AI jangka panjang.
Namun, kiprah Wang mencerminkan perubahan besar di industri teknologi. Generasi baru pendiri startup tidak lagi menunggu usia matang untuk memimpin perusahaan bernilai puluhan miliar dolar. Dunia AI membuka jalan bagi anak-anak muda dengan kemampuan teknis, keberanian mengambil risiko, dan kecepatan membaca peluang.
Alexandr Wang bukan sekadar simbol miliarder muda. Ia menjadi representasi bagaimana data, keputusan cepat, dan momentum teknologi dapat mengubah seorang mahasiswa dropout menjadi figur sentral dalam perlombaan kecerdasan buatan global.
Di tengah perdebatan soal masa depan AI, satu hal sudah pasti: nama Alexandr Wang kini tak lagi bisa dilepaskan dari arah perkembangan teknologi dunia.
(Anton)




















































