SUARAINDONEWS. COM, CHINA – Dunia energi kembali dibuat melongo. China diam-diam meluncurkan mesin super canggih yang bisa melayang di udara selama satu jam dan menghasilkan listrik setara untuk mengisi daya 30 mobil listrik. Bukan drone, bukan balon biasa—ini pembangkit listrik tenaga angin terbang pertama di dunia dengan kapasitas megawatt.
Perangkat bernama S2000 SAWES ini resmi mencuri perhatian setelah sukses menjalani uji terbang di Kota Yibin, Provinsi Sichuan, pada 5 Januari lalu. Dalam waktu sekitar 30 menit setelah lepas landas, mesin raksasa ini melayang hingga ketinggian 2.000 meter dan langsung “kerja keras”, menghasilkan 385 kWh listrik yang tersambung ke jaringan listrik.
Ya, ini bukan sekadar uji coba main-main. Untuk pertama kalinya, pembangkit listrik tenaga angin di ketinggian benar-benar menghasilkan listrik dan masuk ke jaringan resmi, menandai babak baru energi terbarukan—dan tentu saja, bikin banyak negara melirik.
S2000 SAWES memanfaatkan apa yang disebut para ahli sebagai “lapisan angin emas”, yakni angin kencang dan stabil di ketinggian ribuan meter. Angin di zona ini jauh lebih konsisten dibandingkan angin di permukaan tanah, membuat potensi listriknya jauh lebih besar dan minim drama cuaca.
Menurut Dun Tianrui, Direktur Sawes Energy Technology, satu unit S2000 mampu menghasilkan daya hingga 3 MW.
“Dengan kapasitas itu, cukup satu jam saja untuk mengisi penuh sekitar 30 mobil listrik kelas atas dari kondisi baterai nol,” ujar Dun, yang sontak bikin netizen otomotif dan energi ikut heboh.
Secara fisik, S2000 bukan main-main. Ukurannya sekitar 60 meter panjang, 40 meter lebar, dan 40 meter tinggi, menggabungkan balon raksasa dan turbin angin dalam satu sistem terintegrasi. Meski terlihat futuristik, perangkat ini dirancang tangguh dan stabil di berbagai kondisi lingkungan.
Keunggulan lain yang bikin sistem ini makin “layak digosipkan” adalah dampak lingkungannya yang minim. Karena melayang di udara, SAWES nyaris tak butuh lahan luas, tidak merusak lanskap, dan cocok ditempatkan di area padat, bahkan di wilayah perkotaan.
Menariknya lagi, sistem ini juga fleksibel. Seluruh unit bisa diangkut menggunakan kontainer, dengan waktu persiapan hanya sekitar 8 jam, bahkan bisa dipangkas jadi 4–5 jam jika sumber gas tersedia di lokasi. Cepat, praktis, dan futuristik.
Dibandingkan pendahulunya, S1500 yang diuji pada 2025, versi S2000 sudah naik level. Kapasitas muatan lebih besar, tahan cuaca ekstrem, dan tidak lagi terbatas di daerah terpencil seperti gurun atau dataran tinggi. Artinya, teknologi ini siap “turun gunung” ke kota-kota besar.
Singkatnya, China kembali menunjukkan kelasnya. Saat dunia masih debat soal energi bersih, mereka sudah mengirim pembangkit listrik ke langit. Dan kalau gosip teknologi ini jadi kenyataan massal, bukan tak mungkin masa depan listrik benar-benar datang dari udara.
Kalau energi bisa terbang, siapa lagi yang mau jalan pelan?
(Anton)



















































