SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Sektor pariwisata Indonesia kembali menunjukkan kelasnya sebagai salah satu pilar utama ekonomi nasional. Sepanjang 2025, sektor ini menyumbang Rp945,7 triliun atau setara 3,97% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), didorong oleh lonjakan kunjungan wisatawan mancanegara yang menembus 15,39 juta orang atau tumbuh 10,7% (year-on-year).
Tak hanya itu, pariwisata juga mengamankan devisa negara sebesar USD18,91 miliar dan menjadi sumber penghidupan bagi 25,91 juta tenaga kerja—menegaskan perannya sebagai “urat nadi” ekonomi rakyat.
Namun, di tengah tren positif tersebut, badai global mulai menguji ketangguhan sektor ini. Eskalasi konflik di Timur Tengah berdampak langsung pada konektivitas penerbangan internasional, memicu gangguan pada 9 rute strategis di Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Ngurah Rai. Dalam periode akhir Februari hingga 10 Maret 2026, tercatat 47.012 penumpang terdampak.
Kementerian Pariwisata memproyeksikan potensi kehilangan hingga 5.500 wisatawan mancanegara, dengan risiko kerugian devisa mencapai Rp184,8 miliar per hari jika situasi ini tidak segera diantisipasi. Tekanan juga datang dari kenaikan harga avtur yang semakin memperberat industri penerbangan.
Menanggapi situasi ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan pentingnya langkah cepat dan terukur untuk menjaga daya saing pariwisata nasional.
“Indonesia harus segera melakukan reformasi untuk memitigasi dampak krisis global, sekaligus membangun fondasi pariwisata yang lebih kompetitif, tangguh, dan berdaya saing tinggi di tingkat internasional,” tegasnya dalam Webinar Nasional Tourism Under Fire: Dampak Eskalasi Konflik Global terhadap Pariwisata.
Pemerintah pun menyiapkan strategi agresif. Salah satunya melalui perluasan kebijakan Bebas Visa Kunjungan (BVK). Berdasarkan kajian World Travel and Tourism Council, kebijakan ini terbukti mampu mendongkrak kunjungan wisatawan hingga 15% per tahun serta menciptakan 400.000 lapangan kerja baru sejak diterapkan pada 2015.
Sebagai respons cepat, Kementerian Pariwisata telah mengidentifikasi 20 negara potensial untuk memperluas pasar wisatawan.
Di sisi lain, penguatan pasar domestik menjadi tameng utama. Momentum libur Lebaran 2026 dimanfaatkan melalui strategi micro-tourism, yaitu perjalanan jarak dekat dengan pengalaman wisata yang lebih mendalam. Pemerintah juga memberikan stimulus berupa diskon transportasi serta kebijakan Work From Anywhere guna mendorong mobilitas wisatawan nusantara.
Tak berhenti di situ, pemerintah juga mendorong pembukaan rute internasional baru, memperkuat branding Indonesia sebagai destinasi aman dan stabil, serta membidik pasar digital nomad. Kawasan seperti Jakarta, Kepulauan Riau, hingga KEK Kura-Kura Bali diproyeksikan menjadi magnet baru bagi talenta digital global.
Menariknya, pelemahan nilai tukar justru dilihat sebagai peluang strategis.
“Dengan kondisi nilai tukar saat ini, Indonesia menjadi destinasi dengan value for money yang tinggi. Ini momentum untuk memperkuat positioning sebagai destinasi premium dengan harga terjangkau,” ujar Airlangga.
Di tengah tekanan global, pemerintah menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci menjaga ketahanan ekosistem pariwisata nasional. Situasi ini sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat fondasi struktural dan meningkatkan daya saing jangka panjang.
“Saya berharap forum ini melahirkan ide-ide strategis yang konkret. Kita harus memastikan pariwisata Indonesia tetap tangguh, resilien, dan adaptif menghadapi gejolak geopolitik global,” pungkasnya.
(Anton)




















































