SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 mengguncang wilayah Sulawesi Utara pada Kamis pagi (2/4/2026) pukul 05.48 WIB. Guncangan dirasakan luas hingga Manado, Gorontalo, Bone Bolango, Gorontalo Utara, serta Ternate.
Pelaksana Tugas (Plt) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Lana Saria, menjelaskan bahwa pusat gempa berada di perairan Laut Maluku pada koordinat 1,21° LU dan 126,25° BT.
“Berdasarkan informasi BMKG, gempa ini memiliki magnitudo M7,3 dengan kedalaman 18 kilometer. Guncangan terpantau di Pos PGA Dukono dan Ambang pada skala III MMI, Karangetang pada skala III–IV MMI, serta Tangkoko dan Mahawu pada skala IV–V MMI,” ujar Lana dalam keterangan tertulis.
Indonesia merupakan wilayah yang berada di pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia, yakni Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Kondisi ini menjadikan Indonesia, termasuk Sulawesi Utara, sebagai kawasan dengan aktivitas seismik tinggi.
Gempa Besar dan Potensi Tsunami
Secara historis, Sulawesi Utara telah beberapa kali mengalami gempa besar yang memicu tsunami. Tiga peristiwa signifikan tercatat terjadi pada Desember 1858, Desember 1910, dan April 1936.
Gempa pada 1 April 1936 menjadi salah satu yang paling berdampak, dengan magnitudo 7,7. Peristiwa ini menyebabkan sedikitnya 169 rumah roboh dan memicu tsunami setinggi sekitar 3 meter di wilayah Sangihe.
Sementara itu, gempa pada 13 Desember 1858 dengan magnitudo 7,3 juga memicu tsunami di wilayah Talaud dan sekitarnya. Adapun gempa 18 Desember 1910 dengan magnitudo 6,7 turut tercatat memicu gelombang tsunami meskipun dampak kerusakan relatif terbatas.
Selain itu, gempa besar pada 8 Februari 1845 dengan magnitudo 7,0 menyebabkan sedikitnya 118 korban jiwa meskipun tidak memicu tsunami.
Dampak Gempa Terkini Lebih Terkendali
Dalam beberapa dekade terakhir, meskipun gempa besar masih terjadi, dampak yang ditimbulkan relatif lebih terkendali. Hal ini seiring dengan peningkatan sistem mitigasi bencana, kesiapsiagaan masyarakat, serta kualitas infrastruktur.
Gempa pada 18 Januari 2023 di Melonguane dengan magnitudo 7,1 misalnya, hanya menyebabkan kerusakan terbatas pada satu rumah dan tidak menimbulkan korban jiwa maupun tsunami.
Daftar 10 Gempa Terbesar di Sulawesi Utara
Berikut rangkuman 10 gempa terbesar yang pernah tercatat di wilayah Sulawesi Utara berdasarkan data BMKG:
- 1 April 1936 – Magnitudo 7,7 (tsunami, 169 rumah roboh di Sangihe)
- 13 Desember 1858 – Magnitudo 7,3 (tsunami di Talaud)
- 18 Januari 2023 – Magnitudo 7,1 (kerusakan terbatas, tanpa korban)
- 21 Januari 2021 – Magnitudo 7,1 (kerusakan ringan hingga sedang)
- 8 Februari 1845 – Magnitudo 7,0 (118 korban jiwa)
- 21 Januari 2007 – Magnitudo 6,7 (4 korban jiwa, kerusakan ringan)
- 18 Desember 1910 – Magnitudo 6,7 (tsunami, dampak terbatas)
- 13 Juni 2011 – Magnitudo 6,6 (1 korban jiwa)
- 27 Mei 2003 – Magnitudo 6,4 (1 meninggal, 7 luka, 28 rumah rusak)
- 22 Januari 2022 – Magnitudo 6,1 (kerusakan bangunan, korban luka)
Peristiwa gempa yang terjadi pada 2 April 2026 kembali menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan terhadap potensi bencana geologi di Indonesia. Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, mengikuti informasi resmi dari BMKG, serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan gempa susulan.
(Anton)




















































