Tragedi, Pixel Pixel dan Metamorfosa ‘From My Eyes’ Azhar Horo

SUARAINDONEWS.COM, JakartaBerawal dari tragedi, inilah metamorfosis gaya lukis yang melekat sebagai identitas Azhar Horo. Mengandalkan kekuatan piksel-piksel, itulah ia menata kepingan piksel itu sesuai bentuk-bentuk yang ia inginkan.

Dari Pameran Tunggal nya “from my eyes” hingga 22 Juli 2018 di Gedung B Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, Azhar Horo, pelukis kelahiran Boyolali, 27 Febuari 1976, pernah dinobatkan menjadi Best Painting from Fine Art Study Program oleh Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, pada 1997. Juga pernah mendapatkan penghargaan The Best Top Ten of Indonesian Art Awards yang diberikan Phillip Moorris Inc. bertempat di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Selanjutnya, pada 1999 ia meraih The Best Top five of The Winsor Newton World Wide Millenium Painting Competition.

Segepok prestasi Azhar Horo dalam kerja melukisnya mendapat berbagai penghargaan sebagai hasil totalitas kerjanya. Melalui konsep melukis yang selalu direnungkan secra mendalam dan proses penghayatan kerja sepenuh hati yang dilakukannya, hasil mengikutinya melalui bentuk-bentuk penghargaan yang diberikan oleh berbagai pihak. Baik dalam kompetisi lukis atau penghargaan karena hasil kerjanya.

Azhar Horo menunjukan kerja ketat dalam waktu. Dia yang lebih suka berkutat di studionya daripada keluar rumah untuk nongkrong di suatu tempat. Kanvas-kanvas yang berada dihadapannya, dalam studio, merupakan bagian dari proses menelaah pemikirannya yang selalu bergulat dalam ruang-ruang ditengah kehidupannya, sebagai obyek sekaligus ruang berpikirnya. Baik tengah hari atau malam hari jika ada kesempatan serta tidak ada waktu untuk pekerjaan lain, studio tempat menghabiskan waktu.

Menghayati apa yang dikerjakan dalam pilihan hidup merupakan langkah awal bagaimana prestasi kerja dapat dikejar dengan perlahan tapi pasti menghadapi waktu yang terus bergulir. Azhar Horo mengolah waktunya sedemikian rupa menunjukan totalitasnya pada profesi melukis sebagai keseluruhan kehidupannya. Melukis menjadi keseluruhan riwayat hidupnya.

Intuisi dalam pengetahuan merupakan pilar yang tidak bisa terpisahkan. Melalui intuisi berbagai pengetahuan muncul tetapi pengalaman dalam melahirkan intuisi juga tidak bias ditinggalkan. Bagaimana hubungan keduanya dapat dimaknai? Suatu kejadian dalam kehidupan subyek mempengaruhi intuisi bergerak memunculkan pengertian akan kejadian yang dapat diceritakan menjadi pengetahuan. Oleh sebab itu pengetahuan yang terlahir dari intuisi adalah pengalaman batin yang dapat dijadikan sumber inspirasi. Seperti kejadian atau peristiwa yang dialami Azhar Horo saat kejadian gempa bumi besar di Jogjakarta tahun 2006 yang membekas dalam dirinya.

Kondisi yang terekam dalam meorinya itulah yang dituangkan diatas kanvas. Menjadi ledakan-ledakan dalam tiap kanvasnya yang menampilakan berbagai situasi. Baik itu situasi di luar rumah dengan benda-benda yang dilukisnya hancur beterbangan atau benda-benda yang seperti meluncur tetapi pecah tak beraturan. Azhar Horo mempunyai intesitas dalam mengupas memorinya dalam hal ini masuk dalam karya-karyanya.

Perjalanan waktu membuat pengetahuan bertambah, bagaimana pun intuisi juga berkembang setelah melintasi berbagai kejadian. Bahkan nilai estetis karya juga mempunyai perkembangan sesuai penyerapan pengetahuan. Azhar Horo mengalami itu dari waktu ke waktu.

Melalui fenomena dibalik benda bahwa kenyataan benda mempunyai sesuatu didalamnya atau sesuatu yang baru dalam ruang kendali benda itu sendiri. Azhar Horo berusaha mengolah kotak-kotak dalam suatu benda nyata, yang akhirnya mewujud menjadi pixel-pixel dalam lukisannya sebagai gaya dirinya memperhatikan subject matter lukisan untuk dicermati secara dalam dan mendasar.

Bahkan pixel pixel itu juga yang membentuk obeyek visual sesungguhnya jika dicermati sebagai dasar pengetahuan tentang kejadian. Seperti penggunaan pixel dalam foto-foto media massa yang seharusnya tidak dinampakan, misalnya seorang kriminal, dalam koran kuning, yang selalu ditutup pixel-pixel wajahnya supaya tidak nampak identitas wajahnya.

“Kekuatan pixel untuk menutupi identitas seseorang dalam foto media masa itu menjadi inpirasi saya mengolah kembali visual dalam lukisan saya sehingga dapat menjadikan tertata sesuai bentuk-bentuk yang saya inginkan”, ujarnya dalam suatu pembicaraan.

(tantri; foto ist

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Masukan angka : *