POSTFEST 2018 SINEMA TIMUR Sinema Wajah-wajah Dunia Timur

SUARAINDONEWS.COM, Jakarta-PostFest merupakan rangkaian peristiwa pameran yang menampilkan sebuah gagasan kreatif melalui pagelaran seni pertunjukan, pameran seni rupa, film, dan seni digital. Dan di bidang film tahun ini akan menampilkan program berjudul Sinema Timur. Sekaligus wujud kepedulian akan potensi wilayah Indonesia Timur dan dunia timur yang selama ini jarang tampil. PostFest memberikan ruang bagi film-film dari Timur untuk diapresiasi.

PostFest menghadirkan 30 film dari Papua, Makassar, Kendari, Palu, Ambon, Palestina, Syiria, Irak dan Afghanistan. Film-film yang dihadirkan adalah film panjang dan pendek dengan beragam genre seperti fiksi, dokumenter dan animasi. Khusus film berjudul Mentari di Ufuk Timur karya Irham Acho Bachtiar akan diputar perdana di festival ini, menceritakan tentang perjuangan para guru dan masyarakat untuk membangun sebuah sekolah di Muting, sebuah desa terpencil di Merauke. Dibintangi oleh Mathias Muchus dan Nadine Chandrawinata.

Selain film Molulo, yang juga disutradarai oleh Irham Acho Bachtiar akan ditayangkan. Sebuah film yang mampu bertahan di bioskop di Palu selama dua bulan, menggeser film The Avengers.

Film-film dari Indonesia bagian timur sangat beragam, ada cerita tentang seorang anak yang tidak bisa mencoba sepatu baru karena hujan. Ada juga cerita tentang gadis Papua yang dihamili tentara dari Bandung atau film perdana dari sutradara Papua yang bercerita tentang penemuan benda-benda peninggalan penjajah seperti kapal tank, peluru dan bandara. Film-film dari Papua banyak bercerita tentang kasus hak asasi manusia atau bagaimana mereka dipaksa tercerabut dari identitas asli mereka. Film dari Ambon menceritakan tentang sebuah reuni perdamaian, tentang seorang anak yang kehilangan baju bolanya dan tentang para pendayung perahu yang kehilangan penghasilan akibat pembangunan.

Film-film dari dunia timur juga begitu indah menyentuh. Film dari Irak banyak bicara tentang kematian tetapi juga persahabatan seorang anak muslim dan orang tua Yahudi. Film dari Afghanistan berbicara tentang kehidupan yang tidak mudah dan kepolosan seorang anak muda dalam menemukan keberuntungan. Film dari Syiria berbicara tentang perang yang mengancurkan dan film dari Palestina berbicara tentang ketidakadilan. Film-film tersebut dikurasi oleh Sofia Setyorini dan dapat disaksikan pada tanggal 3-5 Agustus 2018 di Kineforum. Penonton tidak dipungut bayaran. Pemutaran film dimulai jam 14.00 pada tanggal 3 Agustus dan selanjutnya dimulai jam 13.30 WIB.

Post Festival atau PostFest merupakan gerakan yang digagas oleh PascaSarjana IKJ (Institut Kesenian Jakarta) dengan tujuan untuk memberikan gagasan baru akan sebuah festival yang didasari oleh research, training, dan eksperimentasi yang dimentori oleh pakar-pakar seni. Festival ini diselenggarakan pertama kali tahun 2017.

Katalog online bisa didapat dengan mengirimkan email ke setyorini.sofia@gmail.com. Jadwal dapat dilihat di website postfest.web.id.

(gha/tjo foto ist

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Masukan angka : *