Panji THE LAST BREATH OF THE PRINCE The Panji Tales Through The Ryes of Diego Zapatero

SUARAINDONEWS.COM, JakartaDi tengah upaya untuk masuk dalam warisan UNESCO sebagai Memory of the World., Panji merupakan kisah tradisional Jawa Timur berlatar zaman Kediri (1104-1222) yang kemudian menyebar ke beberapa wilayah dan negara lain.

Cerita Panji sendiri juga mengalami anakronisme, yakni mencampurkan latar belakang Singasari (1222-1293). Selain sulit untuk memaparkan cerita Panji, karena banyaknya versi yang terus ditulis tiap zamannya maupun satu wilayah ke wilayah lain. Bahkan belakangan diketahui terdapat delapan versi tentang cerita Panji.

Tapi kali ini Panji, lewat Kedutaan Besar Spanyol di Jakarta memperkenalkannya lewat bidikan kamera Diego Zapateto, yang bertajukan THE LAST BREATH OF THE PRINCE The Panji Tales through the eyes of Diego Zapatero” dalam rangka perayaan 60 tahun hubungan diplomatik antara Spanyol dan Indonesia sekaligus meramaikan perayaan Festival Panji di Jakarta. Dimana Zapatero menampilkan adegan Wayang Topeng yang menceritakan kembali cerita rakyat Panji dengan teknik fotografi lawas yang memberikan kesan dan tekstur lampau yang kuat.

Diego Zapatero (Spanyol, 1982) tinggal di Yogyakarta sejak tahun 2010, ketika ia dikirim dari Spanyol selama 2 bulan untuk meliput erupsi gunung setinggi 9.600 kaki yaitu Gunung Merapi. Ia sempat berkarir di bidang marketing dan administrasi bisnis serta memiliki latar belakang seorang pianis dan composer, Diego bermigrasi ke fotografi di usia 25 tahun. Ia mempelajari foto jurnalis dan fotografi dokumenter di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, fokus pada memvisualisasikan cerita-cerita manusia dan warisan budaya Indonesia, yang benda maupun tak benda. Dan untuk lebih memahami budaya lokal, Zapatero menguasai Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa.

Dan dari catatan seperti penelitian dilakukan budayawan, ilmuwan Jawa sekaligus pakar sastra Jawa Kuna, Prof Dr Raden Mas Ngabehi (Lesya) Poerbatjaraka menyatakan bahwa cerita Panji telah ditulis dalam bahasa Jawa pertengahan sebelum atau sekitar tahun 1400, yakni pada zaman keemasan Majapahit.

Sementara bagian dari cerita Panji, ada di Candi Penataran Blitar dan Situs Gambyok di Banyakan Kediri. Sesuai dengan Pararaton dan Negarakertagama yang mengisahkan Raja Hayam Wuruk menari topeng (1350-1389), sehingga kisah Panji diprediksikan telah ada sejak sebelum tahun 1400 bahkan sebelum 1350 an.

Ada beberapa cerita Panji yang diketshui sroerti Panji Kuda Sumirang, Panji Kamboja, Panji Serat Kanda, Angron Akung, Jayakusuma, Panji Angreni Palembang, Panji Kuda Nurawangsa, Malat. Ini juga belum dihitung versi cerita rakyat seperti Ande-ande Lumut, Ketek Ogleng , Ragil Kuning dan lain sebagainya.

Cerita Panji tersebar ke daerah di Nusantara meliputi seluruh Jawa dan Bali, Nusa Tenggara, dan berbagai daerah Sumatra. Sedangkan di luar negeri, cerita Panji juga santer didengar di wilayah di Asia Tenggara, meliputi Thailand, Kamboja dan Myanmar.

(tantri; foto ist

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Masukan angka : *