In Docs dan Tribeca Film Institute Dukung Film Dokumenter Indonesia dan Asia Tenggara di Gelaran lF/Then Southeast Asia 2020 Edisi Kedua

SUARAINDONEWS.COM,Jakarta-Sukses dengan IF/Then Edisi Pertama di tahun 2018, In Docs dan Tribeca Film Institute kembali menggelar IF/Then Asia Tenggara Edisi Kedua yang dijadwalkan pada 17 – 23 Juni 2020, diikuti 19 film dokumenter dari 8 negara yang mengangkat berbagai isu sosial, politik, dan kultural. Dan dikarenakan Pandemi COVID 19, seluruh program akan diselenggarakan secara daring (online). Tahun ini lF/Then mendapat dukungan penuh Kedutaan Amerika Serikat untuk Indonesia.

Sebagai pendukung program IF/Then Southeast Asia 2020, Wakil Duta Besar Amerika Serikat di Indonesia, Heather Variava menambahkan bahwa para sineas ini merepresentasikan talenta talenta lokal yang Iuar biasa, dan inilah alasan pentingnya kita terus mendorong keberagaman cerita dan kebebasan berekspresi. Film dokumenter memegang peranan penting dalam menumbuhkan kesadaran masyarakat serta menciptakan dialog agar kita bisa menjadi masyarakat yang Iebih baik lagi.

“Indonesia sangat bangga menjadi tuan rumah IF/Then Southeast Asia 2020, karena negara kita kaya akan cerita dan sineas berbakat, tapi sayangnya perspektif kita kurang lantang bergema di pentas global. Untuk itu, penting sekali bagi Indonesia untuk menjadi jembatan bagi tidak saja film film Indonesia tetapi juga proyek-proyek terbaik Asia Tenggara agar Iebih terdistribusikan di pasar internasional. Program IF/Then ini merupakan kesempatan penting bagi kita untuk membagikan cerita cerita kita kepada dunia,” ungkap Amelia Hapsari, Direktur Program In Docs.

IF/Then Southeast Asia merupakan program mentorship pengembangan cerita dan distribusi global bagi sineas sineas muda Indonesia dan Asia Tenggara yang akan membantu mereka mengangkat cerita cerita terbaik dari daerah masing masing. Program ini membuka peluang untuk menembus pasar internasional yang seringkali sulit ditembus oleh sineas sineas Indonesia dan Asia Tenggara. Bahkan pada kehadiran pertamanya di tahun 2018 lalu, IF/Then Southeast Asia yang melibatkan 28 sineas dari ASEAN berhasil mengumpulkan pendanaan lebih dari USD 80.000 dari tiga broadcaster besar di dunia, termasuk Al Jazeera English.

“Kami senang sekali bisa bekerjasama dengan salah satu sineas berbakat Indonesia, dan menjadi platform global bagi sebuah film penting yang mengangkat isu mengenai kebutaan di Indonesia dan di seluruh dunia”, ungkap Emile Guertin, Senior Commissioning Producer di Al Jazeera English, dimana empat pemenang IF/Then 2018 juga diundang ke 7 forum dokumenter internasional, dan berhasil menembus 11 festival film internasional.

Selain mengundang sineas sineas terpilih dan profesional di industri film dokumenter, IF/Then juga memberikan kesempatan kerbatas bagi dosen film, mahasiswa film, atau sineas independen yang ingin belajar tentang industri dokumenter internasional untuk berpartisipasi sebagai observer.

“Program IF/Then membuka cakrawala saya dan menajamkan sudut pandang saya sebagai sineas Indonesia. Saya mendapatkan mentorship yang komprehensif tentang bagaimana bekerjasama dengan broadcaster international, bagaimana mengemas cerita yang tidak hanya bagus, tapi juga menginspirasi tanpa harus menceramahi penonton”, kata Ucu Agustin, salah satu pemenang |F/Then Asia Tenggara 2018 yang filmnya ”Sejauh Kumelangkah” berhasil meraih Piala Citra untuk kategori film pendek dokumenter terbaik dan di komisi oleh Al Jazeera English.

IF/Then selalu mendukung sineas sineas yang mengusung cerita tentang masyarakat lokal mereka. Kami ingin menciptakan keberagaman dalam industri film dokumenter karena inilah semangat dan prinsip kerja IF/Then yang akan terus kami jaga dalam kemitraan ini, jelas Chloe Gbai, Direktur IF/Then Shorts di Tribeca Film Institute.

Berikut 19 film dokumenter terpilih mengikuti program IF/Then Southeast Asia 2020, antara lain 19 (Vietnam, Ngoc Le Sutradara), Quang Nong Produser); #116 B University Avenue, Rangoon (Filipina, Joanna Arong Sutradara dan Produser); Dawn (Filipina, Myish Endonila Sutradara), Kristine Angeli Gimongala Co.Sutradara); Dust an the Window (Filipino, Demie Dangla Sutradara); Hi Bay (Indonesia, Rahmi Murti Sutradara), Wini Angraeni Produser); Homebound (Indonesia, Ismail Lubis Sutradara, Nick Calpakdjian Produser); How To Sell Piety (Indonesia, Yovista Ahtajida Sutradara); The Invisibles (Filipina, Bryan Kristoffer Brazil Sutradara), Lea Paz Torre Produser); Iyaha (Filipino, Jeremy Luke Bolatag Sutradara), Alex Poblete Produser); Looking for Haven (Indonesia, Andi Hutagalung Sutradara dan Produser, Tedy Pasaribu Produser); Marawi ( Filipino, Shirin Bhandari Sutradara, Matt Bagu’mon Sutradara, Cha Escala Produser); Married to the Underground (Filipino, Grace Simbulan Sutradara), Johnny Bassett Produser) ; Quay (Vietnam, Hien Anh Nguyen Sutradara, Thuy Anh Nguyen Produser); Rabiah and Mimi (Indonesia, Arfan Sabran Sutradara), Nick Calpakdjian Produser); Sandcast/es (Singapore, Carin Leong Sutradara, Martin Loh Co Produser) ; The Seen and Unseen (Vietnam, Trang Dao Sutradara, Co Produser, Hieu Tran Co Produser); She Who Dreams of Statues (Singapore,

Natalie Khoo Sutradara, Sam Wei Shi Chua Produser); A Sanarous Melody (Indonesia, Riani Singgih Sutradara), Annisa Adjam Produser), Muhammad Ismail Co Produser); dan Underage (Thailand, Ohm Phanphiroj Sutradara, Produser).

Adapun rangkaian acara IF/Then tahun ini terdiri atas Lab Pengembangan Cerita yang dijadwalkan pada 17 – 21 Juni, dan dua hari sesi pitching pada 22 – 23 Juni 2020. Dengan para mentor lF/Then Southeast Asia 2020, diantaranya terdiri dari Cynthia Lowen (Amerika Serikat, Sutradara, Produser Train of Thought Productions); Hata Takeshi (Jepang, Editor, Produser); Emile Guertin (Inggris, Senior Commissioning Producer Al Jazeera English); dan Chloe Gbai (Amerika Serikat, Direktur IF/Then Shorts Tribeca Film Institute).

Sedangkan Sinopsis Projek Film Indonesia di IF/THEN Southeast Asia 2020, sebagai berikut; Pertama; Hi Bay (Indonesia), Rahmi Mur‘ti (Sutradara), Wini Angraeni (Produser). Logline: Hiroki sering dirundung di sekolah. Namun, setelah bergabung di grup penggemar K Pop di sekolahnya, ia menemukan lingkaran baru yang suportif yang membantunya mengumpulkan kekuatan untuk menerima dirinya sendiri.

Sinopsis: Hiroki, remaja gempal berusia 14 tahun, bersekolah di sebuah sekolah swasta di Bali. Kebanyakan temannya adalah perempuan dan dia sering dirundung karena badannya yang gemuk. Hiroki sering tidak dianggap oleh anak Iaki lak‘l di sekolahnya. Saat pelajaran olahraga, mereka tidak mengajak Hiroki ikut bermain basket atau sepakbola, bahkan mengabaikannya ketika Hiroki meminta untuk ikut bermain. Hiroki bahkan diberi nama panggilan, “Pusat Gempa”. Walaupun sering kesal dan sedih, Hiroki mencoba untuk tidak begitu ambil pusing, tapi ejekan teman temannya berdampak negatif terhadap imaji tubuhnya.

Di rumah, Hiroki biasa mendengarkan musik K pop, salah satunya boy band BTS. Hiroki merasakan energi positif dari lirik lirik lagu BTS yang liriknya ia cari di Youtube. Beberapa teman perempuan Hiroki di sekolah juga penggemar K pop. Hiroki datang ke acara acara K pop dan bergabung dengan fanboy dan fangirl dari banyak fandom di Bali. Dengan inilah Hiroki sejenak melupakan ejekan ejekan yang ia terima di sekolah. Hiroki menemukan lingkarannya sendiri.

Kedua; Homebound (Indonesia), Ismail Lubis (Sutradara), Nick Calpakdjian (Produser). Logline: Meninggalkan keluarga demi bekerja di luar negeri selama bertahun tahun itu sulit. Namun, terkadang pulang kampung itu jauh Iebih sulit.

Sinopsis: Sebagai pekerja rumah tangga dan ibu tunggal dari Indonesia, Tari akan pulang ke Jawa Tengah pada tahun 2020 setelah 6 tahun bekerja di luar negeri di sebuah panti jompo di Taiwan. Tari meninggalkan Indonesia untuk mencari penghasilan yang Iebih baik dari yang ada secara lokal, dan ingin membuktikan kepada almarhum ayahnya bahwa ia dapat menjadi mandiri, berpendidikan, dan benanggung jawab atas keluarganya. Tetapi TarI’ bingung tentang masa depannya. Dia mempertanyakan apakah dia dapat menggunakan sumber dayanya yang baru untuk bekerja. Berasal dari keluarga Muslim konservatif. Dia berjuang dengan bagaimana dia akan berhubungan dengan ibunya setelah terkena gava hidup yang dia rasa telah membebaskannya.

Seperti banyak pekerja migran Indonesia, Tari pernah menikah. tetapi suaminya meninggalkannya untuk wanita lain. Anak anaknya telah dirawat oleh ibunya sendiri. D’Ia meninggalkan Indonesia untuk kehidupan yang lebih baik. Tetapi Tari juga sangat berbeda. Dia bekerja di panti jompo swasta dengan upah dan kondisi yang1ebih baik daripada kebanyakan. Dia belajar di universitas dan menjadi penulis yang diterbitkan. Putranya lu|us dari sekolah menengah atas. Dia telah menggunakan kesempatannya untuk meningkatkan hidupnya. Tari melambangkan impian bagi banyak pekerja rumah tangga.

Tari bukan tanpa kesulitannya. Sebagai seorang remaja, dia hamil dan menikah. Ibunya sendiri menyalahkannya atas kematian ayahnya dan dia telah ditipu secara finansial oleh pekerja pabrik di Taiwan. Tetapi, dia tetap positif. Pada bulan Agustus 2020, Tari berencana untuk pulang ke Semarang, Jawa Tengah.

Ketiga; How To Sell Piety (Indonesia), Yovista Ahtajida (Sutradara) Logline: Eksperimen seorang seniman membuat musik Islami yang sukses sambil membongkar hubungan industri budaya pop dan kesalehan massa Indonesia.

Sinopsis: HOW TO SELL PIETY (ISLAM.INC) mendokumentasikan eksperimentasi proyek seni multimedia oleh Yovista Ahtajda, seorang seniman yang sering menggunakan Islam dan kaitan nya dengan Kapitalisme sebagai tema dalam seninya. Vovista merespon pola industri media dan hiburan yang menghasilkan nilai nilai lslam dengan menciptakan dirinya sebagai komodn’tas: penyanyi dan penulis lagu “viral” musik religi. Dia berkonsultasi dengan berbagai ahli dengan latar belakang yang beragam: musik, iklan, hingga sejarah untuk mencari formula ampuh menjual musik hit dan kesalehan kepada massa. Berdasarkan penelitian dan temuannya, ia bereksperimen dengan musiknya, dengan harapan penjualan musiknya sukses.

Dibuat dalam gaya tutorial YouTube, film ini mengkritik banalitas media dalam menjual Islam, sambil mempertanyakan batas batas bentuk film dokumenter yang telah mapan.

Keempat; Looking for Haven {Indonesia), Andi Hutagalung (Sutradara, Produser), Tedy Pasaribu (Produser). Logline: Khawatir dengan kepunahan burung burung pantai di sepanjang pantai timur Sumatra, Nchay, seorang peneliti, mendedikasikan hidupnya untuk melindungi burung burung tersebut dan ekosistem mereka.

Sinopsis: Chairunas Adha Putra (Nchay) meneliti burung air selama 11 tahun di sepanjang kawasan pesisir pantai timur pulau Sumatera. Melintasi perjalanan jauh dengan tantangan yang selalu berbeda di setiap lokasi pengamatan dan penelitian. Bertemu pemburu dan kondisi perubahan fungsi Iahan pesisir mendorongnya untuk turut mengedukasi pengenalan dan persoalan burung air kepada masyarakat di kawasan pesisir. Dengan pembiayaan seadanya, ia terus mengampanyekan hasil hasil penelitiannya kepada lembaga burung internasional dan pemerintah, membuat jurnal penelitian dan berkontribusi foto foto temuannya. Dalam perjalanannya, Nchay menemukan sebuah pulau mangrove, seluas 4003n hektar tak berpenghuni dan tak berstatus hukum yang jelas, tempat berkembang biaknya Milky Stork, burung terancam punah yang hanya tersisa 1600 individu di dunia, dan ini menjadikan tantangan terberat dalam perjuangannya.

Kelima; Rabiah and Mimi (Indonesia), Arfan Sabran (Sutradara), Nick Calpakdjian (Produser). Logline: Rabiah dan Mimi, ibu dan anak, mengabdikan hidup mereka untuk memberikan pelayanan kesehatan di pulau pulau terpencil di Laut Flores, Indonesia.

Sinopsis: Film kami dimulai pada tahun 2020, ketika Mimi yang sedang hamil besar bersiap untuk kelahiran anak ketiganya dalam waktu dekat‘ Dia baru saja pulang dari bekerja di pulau pulau di Laut Flores dan kembali rutin merawat kedua anaknya, mempersiapkan mereka untuk sekolah dan kegiatan keluarga mereka.

Saat dia di rumah, suaminya pergi bekerja di sebuah pulau terpencil dan ibunya, Rabiah, mengambil alih mengurus tugas tugas Mimi di rumah karena belum ada pengganti resmi yang ditawarkan. Bertemu dengan Rabiah di pulau-pulau. kita mendapatkan wawasan tentang bagaimana sistem medis bekerja, tantangan yang dihadapi, dan mendengar bagaimana itu telah (atau belum) berubah selama 30 tahun Rabiah bekerja. Ketika saatnya tiba, kami melakukan perjalanan kembali ke Sulawesi dengan Rabiah, meninggalkan pulau tanpa perawat medis saat ia membantu putrinya melahirkan.

Di rumah bersama Mimi, bayinya yang baru Iahir, dan Rabiah, kami melanjutkan kisah itu melalui kehidupan keluarga mereka dan ritual yang dilakukan dengan seorang bayi yang baru lahir. Kami tinggal bersama Mimi ketika ibunya kembali ke pulau sampai Mimi dan bayinya cukup kuat untuk kembali bekerja. Sekitar 2 bulan akan berlalu dan kami kemudian mengikuti Mimi kembali bekerja.

Kembali ke pulau pulau terpencil, kami menjelajahi tantangan yang dihadapi Mimi setiap hari mengelola pusat kesehatan. Tugasnya tidak hanya untuk merawat orang orang tetapi juga untuk menyediakan pendidikan dengan harapan hal itu mengurangi kebutuhan untuk perawatan di masa depan ke tingkat yang sama. Ketika masalah pecah di pulau pulau terpencil, Mimi meninggalkan bayi mudanya dengan seorang teman dan melakukan perjalanan dengan perahu lokal melalui laut yang berbahaya untuk merawat orang sakit dan terluka. Masalah yang berkaitan dengan kehamilan, diabetes, malnutrisi, dan berbagai infeksi dari luka dan goresan sederhana harus ditangani. Mimi tidak pernah yakin apa yang akan terjadi setiap kali ia mulai bekerja. Hidup bisa keras di pulau pulau terpencil.

Sangat penting untuk menghabiskan banyak waktu dengan Mimi dan keluarganya di pulau pulau terpencil serta kota asal mereka di Sulawesi. Kami tidak dapat memprediksi apa yang akan terjadi (dan kapan) dalam keadaan darurat medis atau masalah serius tetapi mendokumentasikan keluarga, kehidupan pribadi dan sehari hari Mimi akan mengungkapkan masalah penting dan menarik untuk dijelajahi.

Arfan menggunakan pendekatan observasional dan dengan hubungan yang panjang dengan protagonis, ia memiliki kemampuan bawaan untuk menangkap adegan intim dan kuat. Secara visual kami menarik perhatian audiens terhadap keterpencilan lokasi dan jarak yang sangat jauh yang harus ditempuh untuk menjangkau pasien. Bagian timur Indonesia dan Iautnya adalah keindahan untuk dilihat dan kita dapat membandingkan ini dengan kenyataan nyata dari pekerjaan mereka.

Dan Keenam; A Sonorous Melody (Indonesia), Riani Singgih (Sutradara), Annisa Adjam (Produser), Muhammad Ismail (Co Produser). Logline: Seorang pembuat wavang dan penyanyi bahasa isyarat, membawa kita ke perjalanan hidup mereka sebagai seniman Tuli, yang menggunakan media kreatif untuk menembus batas batas bertutur konvensional dalam dunia yang termarginalisasi.

Sinopsis: Mufi dan Ayu merupakan dua seniman Tuli yang menggunakan medium seni yang berbeda, Mufi sebagai penyanyi bahasa isyarat dan Ayu seorang pelukis dan pembuat Wayang Sodo. Wa|au dengan perbedaan medium dalam berkarya, mereka memiliki ambisi yang sama yaitu memberdayakan diri melalui seni bercerita.

Seorang Tuli di Indonesia hingga saat ini masih kesulitan mendapatkan akses di ruang komunikasi publik termasuk di komunitas seni. Mufi yang tinggal di kota Jakarta masih tetap merasa kesulitan mendapatkan inklusivitas. Walaupun Mufi sudah berkolaborasi dengan seniman musik ternama di Indonesia, Mufi masih harus berjuang untuk mendapatkan tempat agar seorang Tuli dapat mengekspresikan diri‘ Ditambah lagi dengan situasi Mufi yang baru saja kehilangan sang Ayah, dimana beliau lah salah satu suporter terbesar dalam hidupnya. Mufi kini terus mencari kekuatan untuk bergerak maju dan pantang menyerah. Mufi secara terus menerus beradvokasi untuk memberdayakan kekreatifitasan teman Tuli khususnya pada bidang seni musik. Mufi kemudian melanjutkan Iangkahnya dan berpartisipasi sebagai bintang tamu untuk tampil pada salah satu Festival Musik terbesar di Indonesia.

Di sisi Iain, Ayu yang tinggal di Wonosari, Jogjakarta memiliki kesulitan yang berbeda. Ayu terpaksa berhenti sekolah saat ia duduk di bangku kelas tiga SLB karena kesulitan biaya dan transportasi. Karena itu, Ayu tidak pernah belajar membaca dan menulis apalagi belajar berkomunikasi dengan bahasa isyarat yang sejatinya merupakan kebutuhan mutlak untuk Ayu yang seorang Tuli. Saat ini, Ayu masih bergantung kepada ibunya dalam perihal berkomunikasi namun ia memiliki beberapa mentor yang menginspirasinya untuk mengasah keterampilan seninya. Ayu kemudian mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pameran seni, kini ia berusaha mengeksplorasi gaya seni yang sesuai dengan pesan apa yang ingin ia ekspresikan melalui karya seninya.

Senandung Senyap adalah perpaduan pembuatan film Veritae dengan adegan surealis yang mempertunjukkan bagaimana Ayu dan Mufi berekspresi melalui seni untuk menceritakan perjalanan keduanya dalam memberdayakan serta mengembangkan kepercayaan diri dan juga menumbuhkan kepercayaan dari sekitarnya.

(gha; foto ist

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Masukan angka : *