Clouds … Rebecca Reijman … Never Give Up Keep on Dancing

SUARAINDONEWS.COM, Jakarta-Diantara tempat tempat yang kumuh, becek, daerah padat penduduk, bahkan hingga di tempat tempah sampah negeri ini. Dari sebuah cermin masyarakat pinggiran yang nyaris tak tersentuh. Mereka tak pernah mengeluh atau meratapinya dengan air mata. Mereka tetap tersenyum dalam menapaki kehidupannya. Mereka seolah tengah menari diatas kesulitannya. Mereka tetap memiliki cinta sambil belajar tentang hidup dan meraih mimpinya untuk masa depan yang lebih baik.

Jika hatimu gundah atas anganmu. Lihatlah keatas pandangilah awan. Singkirkan awan awan itu agar bisa menatap langit biru yang lebih tinggi lagi. Never Give Up Keep on Dancing … ujar Rebecca Reijman dalam syairnya yang puitis pada tajuk singlenya Clouds.

Rebecca Reijman pun menuangkannya karya dan rasa dari ungkapan karyanya itu lewat sentuhan jazzy fusion yang sedikit upbeat dari aransemen Torank Ambarita, Aditya Bowie Wibowo, Fajar Adi Nugroho dan Agung Munthe. Clouds menjadi Ringan, easy listening, mudah dinyanyikan siapa saja, tua maupun muda, dan tentunya memiliki makna keseharian kehidupan yang dalam, keep on dancing … ungkapnya lagi.

Dan tak hanya lewat sentuhan audio saja, single Clouds menjadi sesuatu yang sangat istimewa setelah Rebecca yang lama vakum dan kembali berkarya lagi. Sentuhan visualnya pun dalam penggarapannya dibawah directing Mahatma Putra (Anatman Picture, red) menjadi Anatopism Documentary Film. Sebuah pesan kejujuran diri Rebecca Reijman yang disajikan secara out of place. Menangkap harapan dan mimpinta yang entah berada dimana tapi kehadirannya ada di tempat yang tidak semestinya.

Bahkan Rebecca saat syuting video klip yang digarap tuntas satu hari penuh tersebut sungguh merasakan sekelumit realitas kehidupan di Jakarta yang menyedihkan tapi juga luar biasa. Dan saat dirinya berjalan diatas hamparan sampah di Bantar Gebang yang menggunung hingga setinggi 15 meter lebih itu. Dirinya seperti merasakan seperti berada di negeri lain, berada di dunia yang entah dimana. Selain sempat didapuk menjadi duta bagi masyarakat Bantar Gebang.

“Saya mengawalinya dari bermusik, meski priority masih fammily first, toh saya merasa ada panggilan untuk berkarya lagi. Ini yang membikin semangat. Setelah Clouds saya perdengarkan ke masyarakat berarti satu langkah sudah kita jalani. Langkah selanjutnya mengalir saja seperti karya karya saya yang mengalir begitu saja (2007 Kata Hati; 2009 Rock n Soul; 2015 Devil dan Polyglotism; serta 2019 The D-evil was here, red),” jelas Rebecca, yang berdarah Magelang – Belanda ini.

Dan single Clouds digarap secara live recording, tambah Rebecca, terus kita tambahin sentuhan trompet, harmoni backing vokal dan seterusnya. Jadi sebenarnya prosesnya cepat tetapi yang lama itu justeru keinginan mau ke arah mana sebenarnya Clouds ini dibawa. Untuk video klip nya pun penggarapanya membutuhkan waktu yang lumayan lama juga untuk hasil yang kita inginkan.

Untuk insprirasi Clouds datang dari ‘Mas Don’ Sardono Kusumo, seniman yang juga maestro tari dari Solo. Mas Don yang punya ‘Pabrik Fikir’ men-challange – nya kalau ingin Tarian Teater kamu harus punya pikiran yang lebih luas. Clouds adalah tarian teater kehidupan kita yang mesejnya dapat dimaknai secara luas oleh siapapun yang mendengar dan melihatnya.

Selalu menyanyi mungkin itu sudah menjadi ketentuan dalam hidup. Saya mesti berkarya tetapi keluarga tetap yang utama. Membagi waktu bersama keluarga dan musik sangat fleksibel. Artinya bermusik, bernyayi dan keluarga sangat bisa balance dan bisa kita combain. Jadi, mungkin ini waktunya yang pas untuk balik lagi ke dunia musik, sergah Rebecca seraya menutup pembicaraannya.

(tjo; foto ist

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Masukan angka : *