Bully Jangan Lo Anggap Remeh, Butuh Keberpihakan Hukum yang Tegas

SUARAINDONEWS.COM, Jakarta-Gue jamin … nggak banyak yang tahu, kalo sejak 4 Mei tahun 2012, Perserikatan Bangsa Bangsa telah menetapkannya sebagai Hari Anti Bullying seDunia. Dan tepat 4 Mei 2018, di sudut Kopi Johny Kelapa Gading, Jakarta, sejumlah komunitas pemerhati perlindungan anak dan komunitas masyarakat anti bullying Indonesia mendeklarasikan untuk Tidak Memandang Remeh Bullying, “JanganAngapRemehBullying”.

Kegiatan yang diinisiasi Surya Films dan Anami Entertainment ini berhasil menghadirkan Hotman Paris Hutapea Praktisi Hukum Internasional, Retno Listyarti Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Idham Chalid dari Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, Sekjen Koalisi Anak Madani Indonesia, Ir Soegiharto Santoso alias Hoky, YoungLex selebgram Peduli Anak, para pemeran AIB#CyberBully Yunita Icha dan Wendy Afiana, Komunitas Sudah Dong, Kepala Sekolah SMAN 45, Zulhamshah, serta Sutradara AIB#CyberBully Amar Mukti.

Bahkan secara tegas, Hotman Paris Hutapea mendesak sejumlah Komisi Perlindungan Anak atau Lembaga Perlindungan Anak atau komunitas komunitas yang convern terhadap anak anak untuk segera merevisi Undang Undang Perlindungan Anak agar bullying yang mengakibatkan meninggalnya seseorang dapat di jerat secara hukum.

Hotman Paris Hutapea yang pernah menangani kasus kekerasan anak yang mengakibatkan meninggal dunia di Bali, Angelin, dan menjadi perhatian internasional, mengingatkan agar kekerasan terhadap anak baik fisik maupun non fisik yakni psikis dan psikologis dapat masuk dalam pengembangan pemahaman tindak kejahatan bullying yang diperluas. Khususnya jangan sampai menunggu terpenuhinya dua bukti yang cukup seperti yang disyaratkan KUHAP.

Seperti diketahui Bullying atau perilaku mendominasi yang cenderung dilakukan berulang oleh pelaku terhadap korbannya telah mengkhawatirkan peningkatannya di Indonesia. Karena bukan saja terjadi pada anak-anak sebagai generasi penurus bangsa, tetapi iuga terjadi di semua kalangan masyarakat. Terlebih di era digital ini, bullying dapat dilakukan melalui media sosial, dimana semua orang bisa mengaksesnya lewat gadget masing-masiing.

Seperti dikemukakan oleh Retno Listyarti Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia bahwa sepanjang tiga bulan pertama di tahun 2018 telah terjadi hampir 70% prilaku bully yang terjadi di sekolah sekolah. Ini menunjukkan gejala yang harus diwaspadai bersama bahwa prilaku bully sudah sangat berbahayanya.

“Menurut mereka bully sesuatu yang menyenangkan dan memberikan kepuasan untuk pelakunya. Tapi dampak yang muncul pada korban bullying juga tidak bisa dianggap remeh. Mereka para pelaku bullying tidak pernah menyadari bahaya dari apa yang mereka lakukan. Ini sangat mengkhawatirkan,” lanjut Retno.

Oleh karena itu, masyarakat secara bersama sama harus meningkatkan kepekaannya terhadap prilaku bullying yang terjadi di sekitar kita, di lingkungsn kita. Jangan kita biarkan bila melihat prilaku semacam itu yang dilakukan oleh siapapun. Segera laporkan ke lembaga perlindungan anak setempat atau ke pihak yang berwajib. Dan momen ini menjadi momen yang baik untuk meningkatkan kesadaran masyarakat betapa berbahayanya prilaku bullying, tegas Retno.

Forum yang menjadi trigger untuk memperingati Hari Anti Bullying seDunia secara massif, yang akan dihelat pada 13 Mei 2018 mendatang di moment Car Free Day Jakarta, merupakan sikap atau suatu bentuk kesadaran akan bahaya Bully. Sehingga harus ada upaya proteksi dari sisi hukumnya, berupa sanksi berat atau pencegahan, upaya pemulihan atau rehabilitasi (secara sosial dan psikologis), baik terhadap korban maupun terhadap pelaku bullying.

Inilah juga yang menjadi concern rumah produksi Surya Films dan Anami Entertainment, yang mendaulat Sutradara AIB#CyberBully, Amar Mukti, men-direct film perdananya. Dimana Amar Mukti membagi pengalaman pribadinya yang secara langsung mendapatkan perlakuan bully, yang sangat menyebalkannya, karena lantaran dirinya penyandang disabilitas.

“Perasaan yang sangat emosional ini saya coba ungkap sepanjang film ini sehingga penonton dapat merasakan begitu hebatnya pergolakan emosi  dari para pembully serta para korban yang ingin dihadirkan secara utuh. Apalagi bully ini dilakukan melalui media sosial, yang menjadi lifestyle generasi jaman now ini,” urai Amar Mukti.

Film horor ini berkisah pem-bully-an seorang teman melalui media sosial yang mencapai titik terekstrim, yaitu hilangnya nyawa seseorang. Dengan film ini, para penonton bisa menyadari bahaya dari bullying itu sendiri. AIB #Cyberbully berkisah persahabatan 8 orang yang terjebak dalam sebuah game berujung kematian. Mereka saling meneror sesama teman agar bisa terlepas dari jerat permainan itu. Kematian yang tidak wajar membuat mereka stres dan bertindak semaunya, saling menjatuhkan, dan membuka aib teman sendiri. Film ini diperankan Damita Romauli, Yunita Icha, Harris Ilano, Mikey Lie, Wendy Afiana, Baron Yusuf Siregar, dan lainnya. Film ini menggandeng rapper Young Lex untuk mengisi original soundtrack berjudul Dianggap Remeh.

Dan “Baju Pink” dipilih menjadi ikon Hari Anti Bullying seDunia, berdasarkan sebuah kejadian di Amerika pada tahun 2007, dimana seorang anak laki-laki dibully di hari pertama sekolahnya karena menggunakan “baju berwarna pink”. Korban bully bisa mengalami stres dan bahkan karena tidak tahan akhirnya sampai bunuh diri. Jadi jangan anggap remeh Bully !!!

(tjo; foto ist

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Masukan angka : *