244 Petugas Desmigratif Dilindungi BPJS Naker

SUARAINDONEWS.COM, Jakarta-Sebanyak 244 petugas Desa Migran Produktif (Desmigratif) dari seluruh Indonesia mendapat perlindungan sosial dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan (Naker). Pentingnya petugas Desmigratif masuk BPJS Ketenagakerjaan agar memiliki kenyaman dalam bekerja.

“Kita ikutkan petugas Desmigratif ini dalam program BPJS Ketenagakerjaan, supaya kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan atas diri mereka maka mereka mendapat jaminan dari BPJS Ketenagakerjaan,” kata Dirjen Pembinaan Penempatan dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), Maruli Apul Hasiloan di kantornya, Selasa (7/11/2017).

Maruli mengatakan, pada tahun 2016 dan 2017 sebanyak 122 Desmigratif dari 60 kabupaten dan kota yang dibangun yang dilayani 244 petugas. Pada 30 Oktober sampai 2 November 2017, 244 petugas Desmigratif itu mengikuti Pendidikan dan Pelatihan (diklat) di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta.

Mereka dilatih dan dididik bagaimana mencegah dan memberantas calo pekerja migran atau tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. Mencegah dan memberantas calo mereka lakukan dengan memberikan informasi yang cepat dan akurat kepada masyarakat mengenai suka dan duka bekerja di luar negeri. Selain itu, mereka akan bekerja sama dengan pihak Polri setempat.

Sebagaimana diketahui, ada empat program BPJS Ketenagakerjaan yakni Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM), Jaminan Hari Tua (JHT) dan Jaminan Pensiun (JP). Pada tahun 2018, sebanyak 130 Desmigratif dari 65 kabupaten dan kota dibangun. “Nanti mereka semua juga diikutkan dalam program BPJS Ketenagakerjaan,” kata dia.

Tantangan

Menurut Maruli, salah satu pemicu terjadinya pengiriman TKI illegal dan kejahatan perdagangan orang adalah keterbatasan informasi tentang bermigrasi yang benar, serta lamanya proses pengurusan pada layanan migrasi. “Nah, dengan mendekatkan layanan migrasi dan info pasar kerja di luar negeri secara online di desa-desa kantong TKI, serta dengan pelayanan yang cepat, diharapkan tak terjadi lagi pengiriman TKI secara ilegal,” kata dia.

Maruli mengatakan, tantangan terberat para petugas Desmigratif ini adalah melawan calo TKI yang mempunyai backing (sokongan) pemodal besar serta dekat dengan oknum pejabat. “Dan bukan tidak mungkin mereka akan berbalik menjadi calo TKI. Untuk itu kami akan bekerja sama dengan baik dengan pemerintah kabupaten dan kota serta kepala desa. Kami juga bekerja sama dengan Polri serta lembaga pemerintah lainnya,” kata dia.

Dikatakan, dalam tiga tahun pertama petugas Desmigratif ini digaji dari pusat yakni Kemnaker, dan selanjutnya daerah yang tanggung. “Ini program yang baik dari pemerintah saat ini untuk menyiapkan calon TKI ke luar negeri agar bermutu,” kata dia.
Sebagaimana diberitakan, Desmigratif merupakan sebuah program baru yang sedang diluncurkan oleh pemerintah.

Program Desmigratif memuat empat kegiatan utama yaitu pembangunan pusat layanan migrasi, memupuk usaha produktif, community parenting dan membentuk koperasi usaha produktif. Selanjutnya empat kegiatan utama tersebut meliputi sejumlah kegiatan sesuai priode pelaksanaannya, yaitu sebelum, saat mereka bekerja di negara penempatan, dan setelah penempatan pekerja migran di luar negeri. Adapun subyek program Desmigratif adalah calon TKI, keluarganya dan TKI purna yaitu TKI yang selesai bekerja di luar negeri dan ingin menetap dan berusaha di dalam negeri.

Siap Cegah Calo TKI

Sementara itu, sebanyak 244 petugas Desmigratif dari seluruh Indonesia siap mencegah dan memberantas calo pekerja migran atau tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. Mencegah dan memberantas calo mereka lakukan dengan memberikan informasi yang cepat dan akurat kepada masyarakat mengenai suka dan duka bekerja di luar negeri. Selain itu, mereka akan bekerja sama dengan pihak Polri setempat.

Hal itu ditegaskan 244 petugas Desmigratif di sela-sela acara Pendidikan dan Pelatihan (diklat) petugas Desmigratif di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta, Kamis (2/11). Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) memberikan diklat kepada 240 Desmigratif dari seluruh Indonesia di hotel tersebut sejak 30 Oktober sampai 2 November.

Maruli Apul Hasiloan, mengatakan, para petugas Desmigratif itu lebih banyak diberikan bimbingan teknis caca bermigrasi yang aman bagi calon pekerja migran atau TKI.

Petugas Desmigratif dari Desa Bolong, Kecamatan Toimas, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NNT), Yosep Lae (32) mengatakan, sampai saat ini warga desanya yang bekerja di luar negeri sebanyak 200 orang. “200 orang ini mempunyai izin dan berdokumen lengkap. Sementara warga desanya bekerja di luar negeri tanpa dokumen sekitar 400 orang,” kata dia.

Banyaknya warga Desa Bolong tidak berdokumen bekerja di luar negeri seperti Malaysia karena selama ini pemerintah desa tidak aktif untuk mendata dan mendokumentasikan pekerja migran. “Sejak Oktober 2017, program Desmigratif dimulai di desa kami. Sejak itulah semua yang mau bekerja di luar negeri didata, dan diberi informasi yang penting bagi calon TKI. Bagi mereka tidak layak secara kesehatan dan tidak mempunyai kemampuan secara pendidikan tidak diberi izin,” kata Yosep Lae.

Yosep mengatakan, ia dan seorang temannya sebagai petugas Desmigratif serta aparat desa lainnya akan giat mencegah calo pekerja migran. “Kami akan bekerja dengan pihak Polri setempat,” kata pria berijazah SMA ini.

Rosmiyati (41) petugas Desmigratif dari Desa Widarapayung Wetan, Kecamatan Binangun, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, mengatakan, yang paling penting dalam diklat yang diselenggarakan empat hari di Jakarta ini adalah bagaimana memberikan informasi yang baik dan benar kepada masyarakat terutama calon pekerja migran.

“Kami harus memberikan informasi mengenai tantangan bekerja di luar negeri. Calon TKI harus siap. Selain itu, kami informasikan kepada masyarakat agar hindari calo kalau ingin bekerja di luar negeri. Cari informasi ke kantor desa setempat,” kata perempuan beranak lima itu dan berijazah SMA ini.

Senada Silvia Febriani (23), petugas Desmigratif dari Desa Hegarmanah, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, mengatakan, calo-calo TKI di Garut berkentayangan. Oleh karena itu, program Desmigratif ini sangat efektif memotong mata rantai calo TKI ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Masukan angka : *