1, 2 Bukan Segalanya dan Politisi Jaman Edan Keprihatinan Eros Djarot Buat Masyarakat Cerdas, Waras, Bersatu

SUARAINDONEWS.COM, Jakarta-Pemilihan Presiden dan Pemilihan Legislatif, 17 April 2019 tinggal menghitung hari, sementara sepanjang tahun tahun politik kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan berbangsa Indonesia dipengaruhi oleh dikotomi perseteruan dua kubu (01 dan 02) hingga memasuki ruang ruang keluarga.

Perkawanan lama bisa putus, Whatsup antar kawan rawan di delete, berteman tidak lagi harmonis, dan yang pasti Rakyat Indonesia terpecah belah oleh dua kubu. Namun demikian, Eros Djarot tidak akan mengajak masyarakat untuk masuk Golput. Sebagai warga negara kita harus tetap menjalankan hak politik kita.

Namun, Eros ingin mengajak masyarakat Cerdas, Waras dan Bersatu. Mengajak masyarakat menjadi kohesif faktor atau faktor yang merekatkan. Ini sebagai pencerahan bagi pendidikan politik rakyat Indonesia. Dan ini hanya lima tahun sekali dan bukan segala galanya memilih 01 dan 02, karena bukan yang abadi, karena yang abadi 170845 (Hari Kemerdekaan Indonesia, red).

“Saatnya rakyat cerdas, rakyat waras, rakyat bersatu. Lewat single 1, 2 Bukan Segalanya dan Politisi Jaman Edan. Biarkan mereka yang bekerja untuk kita, bukan sebaliknya, kita yang bekerja buat mereka. Karena melihat yang tidak benar, membuat jadi gelisah. Proyek ini buat masyarakat Indonesia, buat pencinta musik Indonesia. Buat kecintaan pada Indonesia dan musik Indonesia. Dan keresahan politik akibat fenomena polarisasi 01 dan 02 , situasinya sudah sangat mendesak,” jelas Eros Djarot.

Sedangkan Bens Leo, selaku pengamat musik mencatat bahwa apa yang diresahkan Eros Djarot menemukan momen yang tepat, single yang berwarna musik ballad dan pop rock tersebut melahirkan syair syair yang menyejukkan. Ini momentum yang tepat dibutuhkan negara. Dan harus di redam lewat lagu lagu pemersatu. Rasa rasanya ditengah kampanye terbuka sekarang, single ini layak disampaikan ke Istana Presiden dan Prabowo.

“Kita telah di nina bobokan selama ini pada politik yang tidak diperlu bagi kehidupan rakyat, bangsa dan negara Indonesia,” jelas Bens Leo.

Sedangkan, bagi Gigin, rakyat Indonesia butuh musik pemersatu, tercipta lagu lagu yang mencerahkan di tengah tengah lagu lagu baru yang penuh kebencian.
Karakter bangsa yang siap menang tapi tidak siap kalah ini harus disejukkan dengan lagu lagu pemersatu yang lebih luas.

Dan bagi Eros Djarot, sebelum menutupnya mengingatkan bahwa sejak Hari – H (Pencoblosan) hingga Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden yang baru, masih ada kurun waktu yang cukup panjang yakni 6 (enam) bulan dan kita tidak mau ada sesuatu yang akan terjadi dari bangsa ini.

“Orang seni harus punya sensitifitas terhadap apa yang terjadi pada rakyat, bangsa dan negaranya,” tutup Eros Djarot.

(pung; foto ist

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Masukan angka : *